ANTARA AKU DAN SAHABATKU: 13.Mengapa Kita Sering Membela Kesalahan Sendiri dengan Dalih Logika?

 è Mengapa kita sering sekali membela kesalahan kita sendiri dengan dalih logika?

è Siap bro… ini pertanyaan yang “halus tapi nusuk” 😄
Saya jawab dengan gaya yang bisa langsung masuk ke QNA buku kita — reflektif, santai, sedikit nakal tapi tetap menuntun.


Mengapa Kita Sering Sekali Membela Kesalahan Kita Sendiri dengan Dalih Logika?

Karena logika itu seperti pisau dapur…
bisa dipakai untuk memasak kebaikan…
atau untuk mengiris pembenaran.

Masalahnya bukan pada logikanya…
tapi pada siapa yang memegang gagangnya:
akal yang jujur… atau ego yang panik ketahuan.

Saat kita berbuat salah, hati nurani biasanya langsung berbisik:
“Ini tidak tepat…”
Namun ego cepat-cepat mengambil mikrofon dan berkata:
“Tunggu… saya punya penjelasan yang sangat masuk akal!”

Dan anehnya…
kita sering lebih percaya pada penjelasan panjang…
daripada pada bisikan jujur yang singkat.

Kenapa logika sering dipakai jadi tameng kesalahan?

1. Karena mengakui salah itu terasa seperti kalah.
Ego alergi terhadap kata “saya salah”.
Maka ia mencari argumen…
bukan untuk mencari kebenaran…
tapi untuk mempertahankan harga diri.

Akhirnya kita berkata:
“Memang salah… tapi kan situasinya begini…”
Padahal hati tahu… kita hanya sedang menghindar.

2. Logika bisa disusun sesuai kepentingan.
Manusia itu pintar sekali merangkai alasan.
Kalau ingin benar… kita cari data yang mendukung.
Kalau ingin membenarkan diri… kita abaikan data yang tidak nyaman.

Seperti pengacara yang membela klien…
kita jadi pengacara terbaik… bagi kesalahan sendiri.

3. Kita takut melihat diri apa adanya.
Kesalahan sering membuka luka lama:
takut dianggap gagal…
takut kehilangan citra…
takut merasa tidak cukup baik.

Maka logika dipakai seperti selimut…
agar kita tidak kedinginan oleh kejujuran.

4. Kita keliru memahami logika sebagai pembenaran, bukan pencarian kebenaran.
Logika yang sehat seharusnya bertanya:
“Apa yang benar?”
Tapi ego mengubahnya menjadi:
“Bagaimana caranya agar saya terlihat benar?”

Dan di sinilah hati nurani mulai pelan-pelan disingkirkan.

Lalu… bagaimana agar logika tidak jadi pengacara ego?

Coba satu latihan kecil setiap kali kita merasa sangat ingin membela diri:

Tanyakan pada diri sendiri:

“Kalau orang lain melakukan hal yang sama… apakah saya akan membenarkannya juga?”

Kalau jawabannya “tidak”…
mungkin kita sedang tidak memakai logika…
melainkan sedang menyusun alibi.

Latihan lain yang sederhana tapi kuat:

Setiap kali ingin menjelaskan kesalahan…
mulai dulu dengan kalimat:

“Saya mungkin salah di bagian ini…”

Aneh tapi nyata…
kalimat sederhana itu membuat hati nurani kembali duduk di kursi depan…
dan ego perlahan turun dari panggung.

Karena sesungguhnya…

Logika adalah sahabat hati nurani…
bukan bodyguard ego.

Ketika logika digunakan untuk mencari kebenaran…
ia menenangkan.
Namun ketika logika dipakai untuk membela kesalahan…
ia membuat hati semakin gelisah… meski mulut terasa menang.

Dan mungkin…
kedewasaan bukanlah saat kita selalu benar…
melainkan saat kita tidak lagi butuh menjadi benar…
demi terlihat baik.

 (DHARMADJAYA, 14 JANUARI 2026)

BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html




Tidak ada komentar: