ANTARA AKU DAN SAHABATKU: 5. Mengapa Kadang Hati Benar tapi Pikiran Membantah?

 รจ Mengapa ya, kadang Hati Benar tapi Pikiran Membantah?

รจ Wah… ini pertanyaan yang dalem sekaligus jujur banget bro ๐Ÿ˜„
karena di sinilah banyak perang batin manusia terjadi… bukan antara baik dan jahat… tapi antara yang terasa benar di hati… dan yang terasa logis di kepala.

Dan anehnya… dua-duanya kadang sama-sama terdengar meyakinkan.


๐Ÿง  Kenapa pikiran suka membantah?

Karena tugas pikiran itu melindungi kita dari risiko, malu, dan rasa tidak nyaman.

Pikiran bekerja dengan:

  • data,
  • pengalaman masa lalu,
  • trauma,
  • hitung-hitungan untung rugi.

Jadi saat hati berkata:

“Maafkan dia…”

pikiran langsung masuk:

“Nanti kamu dianggap lemah.”
“Dia dulu juga menyakitimu.”
“Bagaimana kalau kamu disakiti lagi?”

Bukan karena pikiran jahat…
tapi karena dia ingin kita aman… bukan selalu benar.


๐Ÿ•ฏ️ Sementara hati nurani…

dia tidak terlalu sibuk dengan aman…
dia sibuk dengan jujur dan selaras.

Kadang dia mengajak:

  • meminta maaf duluan,
  • mengalah,
  • berkata jujur meski rugi,
  • memilih jalan sunyi yang tidak populer.

Dan itu… sering membuat pikiran panik ๐Ÿ˜„
karena tidak sesuai rumus dunia.


⚖️ Ada juga satu hal yang jujur harus kita akui…

kadang yang kita sebut “hati benar” sebenarnya cuma:

  • keinginan kuat,
  • emosi yang terasa suci,
  • atau ego yang sedang pakai jubah spiritual.

Makanya konflik makin besar.

Jadi bukan selalu:
๐Ÿ‘‰ hati benar vs pikiran salah
tapi sering:
๐Ÿ‘‰ suara dalam vs mekanisme pertahanan diri.


๐Ÿ” Cara menengahi perang batin

Coba lakukan jeda kecil… lalu tanyakan:

1️ Apakah suara itu membuatku lebih jujur… atau cuma lebih nyaman?
2️
Apakah keputusan ini membuatku lebih lembut… atau lebih keras?
3
️⃣ Jika aku diam dalam doa… suara mana yang tetap bertahan?

Biasanya…
suara hati nurani tetap sunyi tapi teguh.
sedangkan pikiran pembelaan… berubah-ubah sesuai ketakutan.


๐ŸŒฟ Jadi sebenarnya kenapa konflik itu ada?

Karena manusia bukan cuma hati… bukan cuma pikiran…
kita adalah perjalanan belajar menyeimbangkan keduanya.

Hati memberi arah…
pikiran memberi strategi.

Kalau cuma hati… kita bisa naif.
kalau cuma pikiran… kita bisa dingin dan kehilangan cahaya.

 

(DHARMADJAYA, 10 JANUARI 2026)

BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html




Tidak ada komentar: