ANTARA AKU DAN SAHABATKU: 16.Mengapa orang pintar justru bisa tersesat lebih jauh?

 รจ Bro, mengapa ya orang pintar justru bisa tersesat lebih jauh?

รจ Pertanyaan ini dalam banget bro… dan agak “nendang” juga ๐Ÿ˜„
Karena kenyataannya… kepintaran itu pisau. Bisa jadi alat penerang… tapi juga bisa jadi alat membenarkan kegelapan.

Kita kupas pelan ya.


๐Ÿง  1. Karena Orang Pintar Punya Banyak Alasan

Semakin pintar seseorang, semakin lihai ia merangkai logika.

Masalahnya…
logika bisa dipakai untuk mencari kebenaran —
tapi juga bisa dipakai untuk membela kesalahan dengan cara yang terdengar masuk akal.

Orang awam mungkin berhenti saat hati berkata, “ini salah.”
Tapi orang pintar bisa berkata:

“Tidak juga… kalau dilihat dari sudut ini… ini bisa dibenarkan.”

Dan perlahan… hati nurani tenggelam oleh argumen.


๐ŸŽญ 2. Karena Kepintaran Mudah Berubah Jadi Kesombongan Halus

Bukan sombong yang teriak-teriak…
tapi sombong yang berbisik:

  • “Aku lebih tahu.”
  • “Mereka belum sampai level pemahaman ini.”
  • “Aku punya alasan yang lebih dalam.”

Saat itu terjadi… orang berhenti belajar.
Dan ketika seseorang berhenti belajar… dia mulai tersesat tanpa sadar.


๐Ÿ” 3. Karena Orang Pintar Terbiasa Mengandalkan Pikiran, Bukan Keheningan

Pikiran itu hebat… tapi tidak selalu bijak.

Hati nurani sering berbicara dalam bentuk:

  • rasa tidak nyaman
  • intuisi halus
  • suara lirih

Sedangkan orang yang terlalu mengandalkan pikiran…
cenderung menolak suara yang tidak bisa dijelaskan secara rasional.

Akhirnya… dia bisa pintar secara konsep…
tapi jauh dari kebijaksanaan.


๐Ÿงฑ 4. Karena Mereka Sulit Mengakui Salah

Semakin tinggi reputasi seseorang sebagai “orang pintar”…
semakin berat baginya berkata:

“Ternyata aku keliru.”

Bukan karena jahat…
tapi karena ego takut runtuh.

Dan di situlah… jalan tersesat sering dimulai —
bukan dari kebodohan… tapi dari ketakutan kehilangan citra pintar.


๐ŸŒฑ Tapi Ingat Bro…

Bukan berarti kepintaran itu berbahaya.

Justru… kepintaran yang disertai kerendahan hati
akan menjadi cahaya paling terang.

Orang pintar yang selamat biasanya punya satu kebiasaan:

  • masih bisa tertawa pada dirinya sendiri
  • masih mau mendengar orang sederhana
  • masih berani berkata, “aku belum tahu.”

 

                                                     (DHARMADJAYA, 15 JANUARI 2026)

BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html