ANTARA AKU DAN SAHABATKU: 18.Mengapa kita takut sendiri padahal di sanalah hati bicara?

                                               รจ Mengapa kita takut sendiri padahal di sanalah hati bicara?

รจ Ini pertanyaan yang diam-diam sangat jujur bro…
karena banyak orang lari dari sepi… bukan karena benci sunyi…
tapi karena takut bertemu dirinya sendiri.

Mari kita bedah pelan… ๐ŸŒฟ


๐ŸŒ‘ 1. Karena Saat Sendiri… Tidak Ada Lagi Topeng

Di keramaian kita punya peran:

  • jadi lucu
  • jadi pintar
  • jadi kuat
  • jadi terlihat baik-baik saja

Tapi ketika sendiri…
semua topeng pelan-pelan jatuh.

Dan yang tersisa cuma dua suara:

  • suara hati yang jujur
  • suara batin yang lama kita hindari

Kadang… bukan sepinya yang menakutkan…
tapi kebenaran yang muncul di dalamnya.


๐Ÿ”Š 2. Karena Hati Tidak Suka Basa-Basi

Teman bisa kita hibur.
Publik bisa kita yakinkan.
Tapi hati nurani?
dia jarang berdiplomasi.

Dia bertanya:

  • “kamu bahagia sungguhan?”
  • “kenapa kamu pura-pura kuat?”
  • “kamu masih jujur sama dirimu?”

Dan pertanyaan seperti itu…
tidak selalu nyaman didengar.


๐Ÿ“ฑ 3. Karena Kita Terbiasa Lari dari Sunyi

Dunia digital mengajarkan satu refleks cepat:
begitu hening… buka layar.

scroll…
chat…
video…
musik…

Sunyi dianggap kosong.
Padahal… sunyi itu ruang pertemuan.

Tempat hati berbicara pelan…
tanpa notifikasi… tanpa gangguan.


๐Ÿง  4. Karena Sendiri Membuka Luka Lama

Saat sendiri… ingatan datang tanpa undangan:

  • penyesalan
  • kesalahan
  • kehilangan
  • mimpi yang tertunda

Kita takut tenggelam di dalamnya.

Padahal seringkali…
hati nurani tidak datang untuk menghakimi…
tapi untuk memeluk dan menyembuhkan.


๐ŸŒฑ 5. Belajar Bersahabat dengan Sepi

Sendiri tidak harus langsung dalam dan berat.
Mulai dari yang kecil:

  • duduk tanpa musik 5 menit
  • berjalan pelan tanpa ponsel
  • tarik napas dan bertanya: “apa kabar hatiku hari ini?”

Lama-lama… sepi bukan musuh…
tapi ruang aman.


๐ŸŒ™ Karena Sebenarnya…

kita tidak takut sendiri…
kita takut menjadi jujur.

Namun anehnya…
di situlah kebebasan pertama kali terasa.

Saat berani duduk bersama diri sendiri…
kita menemukan bahwa hati nurani bukan hakim yang galak…
tapi sahabat lama yang sabar menunggu kita pulang.


Ini pertanyaan… dalem bro.
puitis tapi relevan banget buat generasi digital yang selalu ramai tapi sering merasa kosong.

 

   (DHARMADJAYA, 16 JANUARI 2026)

BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html