è Kenapa kita pintar sekali kalau menasihati orang lain tapi buta pada diri sendiri?
è Karena melihat orang lain itu
seperti menonton film…
sementara melihat diri sendiri itu seperti bercermin saat lampu mati.
Kita bisa melihat kesalahan orang
dengan jelas, runtut, bahkan lengkap dengan solusi.
Tapi ketika kesalahan yang sama ada di dalam diri… tiba-tiba semua terasa
kabur.
Alasannya muncul satu per satu… seperti pengacara yang siap membela
mati-matian.
Aneh ya?
Padahal hati nurani kita tahu…
kita hanya sedang menghindar dari kejujuran.
Ada
beberapa “penyakit halus” yang membuat kita jadi penasihat hebat tapi murid
yang buruk bagi diri sendiri.
1. Kita melihat orang dari luar,
tapi melihat diri dari dalam.
Orang lain kita nilai dari tindakannya.
Diri sendiri kita nilai dari niat.
Orang lain terlambat = tidak disiplin.
Kita terlambat = lagi banyak pikiran.
Standar ganda ini sering tidak
terasa…
karena ego menyebutnya “wajar”.
2. Memberi nasihat terasa mulia…
memperbaiki diri terasa menyakitkan.
Menasehati orang itu cepat.
Cukup kata-kata.
Memperbaiki diri butuh perubahan…
dan perubahan selalu meminta pengorbanan.
Lebih mudah bicara tentang sabar…
daripada benar-benar bersabar saat diuji.
3. Kita suka menjadi pahlawan di
cerita orang lain… tapi korban di cerita sendiri.
Saat orang curhat, kita tampil bijak.
Tenang… solutif… penuh hikmah.
Namun saat masalah datang ke hidup kita…
kita berubah jadi manusia paling lelah di dunia.
Bukan karena kita palsu…
tapi karena kita belum sepenuhnya jujur pada luka sendiri.
4. Ego diam-diam menikmati posisi
“yang tahu”.
Menjadi orang yang memberi nasihat memberi rasa penting.
Ada kepuasan tersembunyi:
“aku paham… aku bijak… aku lebih tenang.”
Padahal…
hati nurani hanya butuh satu hal sederhana:
kesediaan untuk belajar… bahkan dari kesalahan sendiri.
Lalu
bagaimana agar kita tidak hanya pintar menasihati… tapi juga pandai memperbaiki
diri?
Coba mulai dari pertanyaan kecil
setiap kali memberi nasihat:
“Apakah nasihat ini sudah pernah
saya jalani sendiri?”
Kalau jawabannya belum…
maka mungkin itu bukan nasihat…
melainkan harapan yang kita sendiri belum berani jalani.
Dan satu latihan sederhana:
Setiap kali ingin menasihati orang…
beri satu nasihat yang sama untuk diri sendiri…
lalu jalani diam-diam.
Tidak perlu diumumkan.
Tidak perlu diposting.
Cukup jadi rahasia antara kita… dan hati nurani.
Karena
sebenarnya…
Hati nurani tidak butuh kita jadi
penceramah.
Ia hanya ingin kita jadi murid yang jujur.
Dan saat kita mulai menasihati
diri sendiri dengan lembut…
anehnya… nasihat kita kepada orang lain justru menjadi lebih tulus…
lebih rendah hati…
dan… lebih manusiawi.