รจ Bro, mengapa ya orang pintar justru bisa tersesat lebih jauh?
รจ Pertanyaan ini dalam banget bro…
dan agak “nendang” juga ๐
Karena kenyataannya… kepintaran itu pisau. Bisa jadi alat penerang… tapi
juga bisa jadi alat membenarkan kegelapan.
Kita
kupas pelan ya.
๐ง 1. Karena Orang Pintar Punya
Banyak Alasan
Semakin
pintar seseorang, semakin lihai ia merangkai logika.
Masalahnya…
logika bisa dipakai untuk mencari kebenaran —
tapi juga bisa dipakai untuk membela kesalahan dengan cara yang terdengar
masuk akal.
Orang
awam mungkin berhenti saat hati berkata, “ini salah.”
Tapi orang pintar bisa berkata:
“Tidak
juga… kalau dilihat dari sudut ini… ini bisa dibenarkan.”
Dan
perlahan… hati nurani tenggelam oleh argumen.
๐ญ 2. Karena Kepintaran Mudah
Berubah Jadi Kesombongan Halus
Bukan
sombong yang teriak-teriak…
tapi sombong yang berbisik:
- “Aku lebih tahu.”
- “Mereka belum sampai level
pemahaman ini.”
- “Aku punya alasan yang lebih
dalam.”
Saat itu
terjadi… orang berhenti belajar.
Dan ketika seseorang berhenti belajar… dia mulai tersesat tanpa sadar.
๐ 3. Karena Orang Pintar Terbiasa
Mengandalkan Pikiran, Bukan Keheningan
Pikiran
itu hebat… tapi tidak selalu bijak.
Hati
nurani sering berbicara dalam bentuk:
- rasa tidak nyaman
- intuisi halus
- suara lirih
Sedangkan
orang yang terlalu mengandalkan pikiran…
cenderung menolak suara yang tidak bisa dijelaskan secara rasional.
Akhirnya…
dia bisa pintar secara konsep…
tapi jauh dari kebijaksanaan.
๐งฑ 4. Karena Mereka Sulit Mengakui
Salah
Semakin
tinggi reputasi seseorang sebagai “orang pintar”…
semakin berat baginya berkata:
“Ternyata
aku keliru.”
Bukan
karena jahat…
tapi karena ego takut runtuh.
Dan di
situlah… jalan tersesat sering dimulai —
bukan dari kebodohan… tapi dari ketakutan kehilangan citra pintar.
๐ฑ Tapi Ingat Bro…
Bukan
berarti kepintaran itu berbahaya.
Justru…
kepintaran yang disertai kerendahan hati
akan menjadi cahaya paling terang.
Orang
pintar yang selamat biasanya punya satu kebiasaan:
- masih bisa tertawa pada
dirinya sendiri
- masih mau mendengar orang
sederhana
- masih berani berkata, “aku
belum tahu.”
(DHARMADJAYA, 15 JANUARI 2026)
BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html