รจ Lalu… Mengapa Diam Kadang Lebih Jujur daripada Seribu Kata?
รจ Nah… ini pertanyaan rasanya
tenang… tapi diam-diam tajam bro ๐
karena di zaman sekarang… semua orang bicara… posting… menjelaskan… membela
diri…
tapi justru… kejujuran sering bersembunyi di dalam diam.
Kenapa
bisa begitu?
๐ฟ 1. Kata-kata mudah dipoles… diam
sulit dipalsukan
Kata-kata
bisa:
- disusun rapi,
- dihias logika,
- dibungkus citra,
- dibuat terdengar bijak.
Tapi
diam…
sering lahir dari sesuatu yang mentah dan jujur:
- rasa yang belum selesai,
- penyesalan yang tidak tahu
harus diucapkan,
- kesadaran yang terlalu dalam
untuk diringkas.
Kadang…
orang yang diam bukan tidak punya jawaban…
tapi sedang berusaha tidak berdusta.
๐ง 2. Saat hati belum selaras… kata
hanya jadi topeng
Ada momen
ketika:
- pikiran ingin terlihat kuat,
- ego ingin terlihat benar,
- tapi hati sedang hancur.
Kalau
dipaksa bicara…
yang keluar bukan kejujuran… tapi pembelaan.
Maka diam
menjadi ruang aman…
agar hati dan kata bisa bertemu dulu sebelum keluar ke dunia.
๐ 3. Ada luka yang terlalu suci
untuk dipamerkan
Tidak
semua kesedihan perlu dijelaskan.
Tidak semua pertobatan perlu diumumkan.
Kadang
seseorang memilih diam…
karena ia sedang berbicara jujur dengan Tuhan… bukan dengan keramaian.
Dan
anehnya… diam seperti ini terasa lebih dalam
daripada ribuan kalimat motivasi.
๐ 4. Diam memberi kesempatan hati
nurani berbicara
Saat
mulut berhenti…
hati mulai terdengar.
Kita
mulai mendengar:
- suara bersalah yang selama
ini tertutup,
- rasa rindu pada kebenaran,
- bisikan kecil yang berkata:
“kamu tahu apa yang benar.”
Itulah
sebabnya banyak orang takut sunyi…
karena di sana… mereka bertemu diri sendiri tanpa filter.
⚠️ Tapi… tidak semua diam itu jujur
Ada juga
diam yang:
- lari dari tanggung jawab,
- menyimpan kebencian,
- pasif-agresif,
- atau takut menghadapi
kenyataan.
Diam yang
jujur terasa hangat… meski hening.
Diam yang tidak jujur terasa dingin… dan menjauhkan.
๐ Penutup untuk QNA ini
Diam
bukan berarti kosong.
Seringkali… diam adalah tempat kejujuran bernafas sebelum lahir menjadi kata.
Seribu
kata bisa menipu telinga…
tapi diam yang tulus… langsung berbicara ke hati.
Dan
mungkin… perjalanan bersahabat dengan hati nurani…
tidak selalu dimulai dari banyak bicara…
tapi dari
keberanian duduk diam…
dan akhirnya berani mendengar diri sendiri.
Wah bro…
pertanyaan ini puitis banget ๐
saya sudah bisa membayangkan generasi digital membaca ini tengah malam…
lalu tiba-tiba memilih mematikan notifikasi… dan duduk diam sebentar.
(DHARMADJAYA, 12 JANUARI 2026)
BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html