è Bagaimana cara mengetahui bahwa kita sedang menipu diri sendiri, bro?
è Ini pertanyaan… jujur tapi agak
“nyelekit” bro 😄
karena menipu orang lain itu satu hal…
tapi menipu diri sendiri… seringkali dilakukan dengan sangat halus… bahkan
tanpa sadar.
Hati
nurani biasanya sudah tahu…
hanya saja kita pintar sekali membuat alasan agar tetap nyaman.
Coba
lihat tanda-tandanya…
🎭 1. Terlalu Banyak Alasan yang
Terdengar Pintar
Kalau
setiap keputusan selalu dibungkus kalimat:
- “ini demi kebaikan…”
- “semua orang juga begitu…”
- “ini realistis kok…”
padahal
di dalam ada rasa tidak enak…
bisa jadi itu bukan logika…
tapi rasionalisasi.
Logika
menenangkan.
Rasionalisasi… membungkam hati.
🫥 2. Ada Suara Kecil yang Terus Kita Abaikan
Biasanya
ada jeda sepersekian detik sebelum bertindak:
“ini
benar tidak ya?”
Kalau
suara itu sering muncul…
lalu kita buru-buru menutupnya dengan distraksi…
itu tanda hati sedang dipinggirkan.
Hati
nurani tidak berisik…
tapi dia konsisten.
🪞 3. Kita Tidak Nyaman Sendiri
Tanpa Gangguan
Saat
menipu diri sendiri…
sunyi terasa menegangkan.
Maka kita
sibuk:
- scroll
- ngobrol tanpa arah
- cari keramaian
bukan
karena bahagia…
tapi karena takut berpikir jujur.
😤 4. Mudah Tersinggung Saat
Disentil Orang
Kalau ada
kritik kecil langsung defensif:
- marah
- menjauh
- menyerang balik
kadang
bukan karena kritiknya salah…
tapi karena ia menyentuh kebenaran yang sudah lama kita tutupi.
🌫️ 5. Ada Rasa Kosong yang Tidak
Jelas Sebabnya
Di luar
terlihat baik-baik saja.
Tapi di dalam… ada rasa hampa.
Sering
bukan karena hidup buruk…
tapi karena kita hidup tidak selaras dengan suara terdalam.
🌱 Cara Mengeceknya Tanpa
Menghakimi Diri
Coba
tanya pelan:
- “kalau tidak ada yang menilai…
apakah aku tetap memilih ini?”
- “kalau anak kecil dalam
diriku melihatku… dia bangga atau sedih?”
- “kenapa aku perlu
menjelaskan terlalu panjang untuk membela keputusan ini?”
Jawabannya
sering muncul… bukan di kepala… tapi di dada.
🌙 Ingat bro…
menipu
diri sendiri bukan tanda kita jahat…
biasanya itu tanda kita sedang takut… lelah… atau belum siap jujur.
Dan hati
nurani bukan polisi yang menghukum…
dia cuma sahabat lama… yang terus mengetuk pintu…
menunggu kita berkata:
“ya… aku siap melihat diriku apa adanya.”
Pertanyaan
ini… dalem dan sangat manusiawi.
Generasi digital juga sering hidup di antara citra dan kenyataan…
BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar