è Bagaimana dengan Anak Kecil bro, apakah mereka Lebih Dekat dengan Hati Nurani?
è Pertanyaan ini manis… tapi juga
jebakan halus bro 😄
karena banyak orang langsung bilang:
👉 “iya… anak kecil pasti lebih suci… lebih dekat
hati nurani.”
Padahal…
jawabannya iya… tapi tidak sesederhana itu.
👶 Kenapa anak kecil terlihat dekat
dengan hati nurani?
Karena
mereka belum punya banyak:
- topeng sosial,
- kepentingan citra,
- strategi manipulasi,
- kalkulasi untung rugi.
Kalau
senang… ya tertawa.
Kalau sedih… ya menangis.
Kalau tidak suka… langsung bilang.
Hati
mereka masih langsung terhubung dengan rasa asli.
Mereka
belum terlalu sibuk:
“Orang
nanti bilang apa ya?”
“Ini menguntungkan gak?”
“Aku terlihat keren gak?”
Dan di
situlah… kita melihat kilau hati nurani yang polos.
🧠 Tapi… bukan berarti anak kecil
selalu benar
Nah ini
yang sering keliru.
Anak
kecil juga:
- egois,
- mudah marah,
- ingin menang sendiri,
- belum punya filter moral
yang matang.
Mereka
punya kejernihan rasa… tapi belum punya kebijaksanaan arah.
Jadi
mereka dekat dengan keaslian…
bukan otomatis dekat dengan kebenaran moral.
🌱 Lalu sebenarnya apa yang
terjadi?
Anak
kecil itu seperti:
👉 hati yang masih terbuka…
👉 tapi kompasnya belum selesai dipasang.
Makanya
mereka butuh:
- teladan,
- kasih sayang,
- batasan,
- dan bimbingan.
Tanpa
itu… kejernihan bisa berubah jadi liar.
Dengan itu… kejernihan bisa tumbuh jadi nurani yang matang.
🔄 Ironinya justru pada orang
dewasa
Semakin
dewasa…
kita makin pintar menyembunyikan suara hati.
Kita belajar:
- menunda rasa bersalah,
- membenarkan kesalahan,
- memakai logika untuk menutup
nurani.
Jadi
bukan karena hati nurani hilang…
tapi karena tertutup oleh pengalaman dan kepentingan.
Makanya
kadang…
orang dewasa justru perlu belajar kembali dari anak kecil:
- jujur pada rasa,
- berani mengakui salah,
- cepat memaafkan,
- tidak menyimpan dendam lama.
🌿 Jadi… apakah anak kecil lebih
dekat hati nurani?
Jawaban
jujurnya:
👉 Mereka lebih dekat dengan kejernihan awal hati
👉 tapi belum tentu lebih dekat dengan kebijaksanaan
nurani.
Dan tugas
manusia dewasa…
bukan menjadi kekanak-kanakan lagi…
tapi
menjadi:
dewasa
yang bijak… dengan hati yang tetap jernih seperti anak kecil.
Dan bro…
jujur ini judul QNA yang kuat banget 😄
karena generasi digital sering terjebak dua ekstrem:
- ingin jadi dewasa terlalu
cepat,
- tapi kehilangan kejernihan
awal.
(DHARMADJAYA, 10 JANUARI 2026)
BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar