è Mengapa ya, Semakin Dewasa Justru Semakin Sulit Jujur pada Diri Sendiri?
è Wah… ini pertanyaan agak “nusuk
tapi jujur” bro 😄
dan hampir semua orang dewasa — kalau berani jujur — pasti pernah merasakannya.
Karena
aneh memang…
waktu kecil kita polos.
semakin tua… justru makin pintar menyembunyikan diri dari diri sendiri.
Mari kita
bongkar pelan-pelan.
🎭 1. Karena kita mulai memakai
banyak topeng
Semakin
dewasa… kita punya banyak peran:
- orang tua,
- pasangan,
- pekerja,
- tokoh masyarakat,
- penulis,
- guru,
- pemimpin.
Masalahnya…
lama-lama kita lupa:
mana diri
asli… mana peran yang sedang dimainkan.
Akhirnya…
kita jujur pada orang lain sesuai peran,
tapi tidak lagi jujur pada diri sendiri.
🧠 2. Ego makin pintar membuat
pembenaran
Dulu
waktu kecil:
- salah ya salah,
- ketahuan ya nangis.
Sekarang?
Kita punya kemampuan luar biasa:
👉 merasionalisasi kesalahan.
Contohnya:
- “Saya marah karena
mendidik.”
- “Saya sombong karena menjaga
wibawa.”
- “Saya menunda karena sedang
menunggu waktu tepat.”
Padahal…
kadang itu hanya cara halus menghindari kenyataan.
Semakin
pintar otak…
semakin canggih alasan untuk tidak jujur.
💔 3. Luka hidup membuat kita takut
melihat diri sendiri
Kejujuran
itu menyakitkan.
Karena
kalau jujur… kita harus mengakui:
- pernah gagal,
- pernah salah memilih,
- pernah melukai orang,
- pernah lemah.
Banyak
orang dewasa akhirnya memilih:
👉 nyaman dalam ilusi… daripada jujur dalam luka.
🌐 4. Dunia sosial menghargai
citra, bukan kejujuran
Di dunia
digital sekarang:
- semua orang ingin terlihat
kuat,
- bahagia,
- sukses,
- bijak.
Jarang
yang berani bilang:
“Saya
bingung.”
“Saya takut.”
“Saya lelah.”
Lama-lama…
kita percaya citra kita sendiri.
dan kehilangan kejujuran batin.
🌿 5. Padahal hati nurani tidak
pernah berubah
Yang
berubah bukan hati nurani…
tapi jarak kita darinya.
Hati
nurani tetap berbisik:
- saat kita pura-pura,
- saat kita menghindar,
- saat kita tidak autentik.
Masalahnya…
kita terlalu sibuk…
hingga suara halus itu tertimbun oleh:
- ambisi,
- trauma,
- gengsi,
- ketakutan.
🔑 Jadi… bagaimana kembali jujur
pada diri sendiri?
Bukan
dengan menjadi lemah…
tapi dengan berani duduk diam dan bertanya:
- “Apa yang sebenarnya saya
rasakan?”
- “Apa yang saya sembunyikan
dari diri saya?”
- “Apa yang saya takut akui?”
Kejujuran
pada diri sendiri bukan tanda kalah…
justru tanda kedewasaan tertinggi.
🌙 Penutup untuk QNA ini (ini kuat
banget untuk buku kita)
Semakin
dewasa… hidup tidak membuat kita sulit jujur.
yang membuat sulit… adalah lapisan yang kita bangun untuk bertahan hidup.
Dan
perjalanan bersahabat dengan hati nurani…
sebenarnya bukan mencari suara baru…
tapi membongkar
satu per satu topeng lama…
hingga kita berani kembali pulang ke diri sendiri.
(DHARMADJAYA, 11 JANUARI 2026)
BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar