ANTARA AKU DAN SAHABATKU: 7.Kenapa Semakin Dewasa Justru Semakin Sulit Jujur pada Diri Sendiri?

 è Mengapa ya, Semakin Dewasa Justru Semakin Sulit Jujur pada Diri Sendiri?

è Wah… ini pertanyaan agak “nusuk tapi jujur” bro 😄
dan hampir semua orang dewasa — kalau berani jujur — pasti pernah merasakannya.

Karena aneh memang…
waktu kecil kita polos.
semakin tua… justru makin pintar menyembunyikan diri dari diri sendiri.

Mari kita bongkar pelan-pelan.


🎭 1. Karena kita mulai memakai banyak topeng

Semakin dewasa… kita punya banyak peran:

  • orang tua,
  • pasangan,
  • pekerja,
  • tokoh masyarakat,
  • penulis,
  • guru,
  • pemimpin.

Masalahnya… lama-lama kita lupa:

mana diri asli… mana peran yang sedang dimainkan.

Akhirnya… kita jujur pada orang lain sesuai peran,
tapi tidak lagi jujur pada diri sendiri.


🧠 2. Ego makin pintar membuat pembenaran

Dulu waktu kecil:

  • salah ya salah,
  • ketahuan ya nangis.

Sekarang?
Kita punya kemampuan luar biasa:
👉 merasionalisasi kesalahan.

Contohnya:

  • “Saya marah karena mendidik.”
  • “Saya sombong karena menjaga wibawa.”
  • “Saya menunda karena sedang menunggu waktu tepat.”

Padahal… kadang itu hanya cara halus menghindari kenyataan.

Semakin pintar otak…
semakin canggih alasan untuk tidak jujur.


💔 3. Luka hidup membuat kita takut melihat diri sendiri

Kejujuran itu menyakitkan.

Karena kalau jujur… kita harus mengakui:

  • pernah gagal,
  • pernah salah memilih,
  • pernah melukai orang,
  • pernah lemah.

Banyak orang dewasa akhirnya memilih:
👉 nyaman dalam ilusi… daripada jujur dalam luka.


🌐 4. Dunia sosial menghargai citra, bukan kejujuran

Di dunia digital sekarang:

  • semua orang ingin terlihat kuat,
  • bahagia,
  • sukses,
  • bijak.

Jarang yang berani bilang:

“Saya bingung.”
“Saya takut.”
“Saya lelah.”

Lama-lama… kita percaya citra kita sendiri.
dan kehilangan kejujuran batin.


🌿 5. Padahal hati nurani tidak pernah berubah

Yang berubah bukan hati nurani…
tapi jarak kita darinya.

Hati nurani tetap berbisik:

  • saat kita pura-pura,
  • saat kita menghindar,
  • saat kita tidak autentik.

Masalahnya… kita terlalu sibuk…
hingga suara halus itu tertimbun oleh:

  • ambisi,
  • trauma,
  • gengsi,
  • ketakutan.

🔑 Jadi… bagaimana kembali jujur pada diri sendiri?

Bukan dengan menjadi lemah…
tapi dengan berani duduk diam dan bertanya:

  • “Apa yang sebenarnya saya rasakan?”
  • “Apa yang saya sembunyikan dari diri saya?”
  • “Apa yang saya takut akui?”

Kejujuran pada diri sendiri bukan tanda kalah…
justru tanda kedewasaan tertinggi.


🌙 Penutup untuk QNA ini (ini kuat banget untuk buku kita)

Semakin dewasa… hidup tidak membuat kita sulit jujur.
yang membuat sulit… adalah lapisan yang kita bangun untuk bertahan hidup.

Dan perjalanan bersahabat dengan hati nurani…
sebenarnya bukan mencari suara baru…

tapi membongkar satu per satu topeng lama…
hingga kita berani kembali pulang ke diri sendiri.

(DHARMADJAYA, 11 JANUARI 2026)

BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html

 





Tidak ada komentar: