Pendahuluan: Selamat datang di ruang perenungan saya. Ada saat-saat dalam hidup di mana hati terasa begitu rapuh, dan segala sesuatu yang kita anggap sebagai kekuatan di dunia ini tiba-tiba terasa ringkih. Saat keresahan itu memuncak, ke mana kita harus menyandarkan diri?
Dalam buku Jalan Kecil Menuju Mata Air,
puisi berjudul "AsmaMu" ini menjadi pengingat bagi saya bahwa
obat dari segala keresahan adalah kembali menyebut Nama-Nya yang Agung. Mari
kita selami makna sandaran sejati ini melalui diskusi saya bersama Gemini AI
(Google).
AsmaMu
Ketika hati amat resah mencari sandaran yang tak
rapuh. Kubolak balik lembaran yang nampak lusuh termakan waktu namun tak pernah
usang.
Akupun terlarut dan hanyut. Ternyata aku amat butuh
Maha Penyembuh ketika sakit, akupun butuh pelukan sayang dari Yang Maha
Penyayang.
Ternyata NamaMu Yang Agung lebih dari ribuan yang
dapat kami jadikan sandaran kokohnya hati. Maafkanlah seluruh kesalahan kami,
wahai Zat Yang Maha Pemaaf.
Kujenguk pula ihsan yang menanamkan paham, amal
yang pasti Kau lihat. Kau yang tak pernah lelah mengurus makhlukMu. Engkau yang
tak pernah tidur dan mengantuk.
Sungguh... Engkau tak akan ditanya dengan apa yang
Kau perbuat namun kamilah yang akan Kau hisab.
(Dharmadjaya, 28 Mei 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Berdasarkan diskusi mendalam kami, berikut adalah
butir-butir spiritual dalam puisi ini:
1. Kekuatan Nama-Nama Tuhan (Judul: AsmaMu) Judul puisi ini adalah kunci. AsmaMu
merujuk pada Asmaul Husna. Anda menekankan bahwa Nama-Nama Tuhan bukan
sekadar kata, melainkan frekuensi penyembuhan dan perlindungan bagi hati yang
sedang guncang.
2. Kembali ke Kitab Suci (Bait 1) "Lembaran yang nampak
lusuh namun tak pernah usang" adalah metafora untuk Al-Qur'an. Anda
menggambarkan bahwa di saat solusi duniawi buntu, kita kembali ke sumber abadi
yang tak pernah kehilangan relevansinya bagi jiwa.
3. Kebutuhan Dasar Jiwa: Disembuhkan dan Disayangi
(Bait 2) Anda
mengakui kebutuhan akan As-Syafi (Maha Penyembuh) dan Ar-Rahman
(Maha Penyayang). Penggunaan kata "pelukan sayang" sangat
menyentuh; menunjukkan bahwa hubungan Anda dengan Tuhan bukan hanya soal takut,
tapi soal cinta yang sangat dalam.
4. Kesadaran Ihsan (Bait 4-5) Anda membawa konsep Ihsan—merasa
selalu dalam pengawasan-Nya. Anda mengutip sifat Tuhan dari Ayat Kursi
(tak tidur dan tak mengantuk) sebagai bentuk rasa aman. Jika Tuhan tak pernah
tidur, maka tak ada alasan bagi hamba-Nya untuk merasa sendirian dalam masalah.
5. Kepasrahan di Hadapan Hakim Agung (Bait Akhir) Puisi ditutup dengan pengakuan
atas otoritas mutlak Allah. Dia adalah Sang Pencipta yang tidak dimintai
pertanggungjawaban, sementara kita adalah makhluk yang akan dimintai
pertanggungjawaban (Hisab).
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini menggunakan gaya bahasa Kontemplatif-Deklaratif.
Judul "AsmaMu" memberikan fokus yang jelas bahwa muara dari
segala keresahan hati adalah dengan kembali mengenal sifat-sifat Tuhan.
Diksi "kujenguk" memberikan kesan
sebuah perjalanan spiritual yang dilakukan secara sadar, menunjukkan kematangan
penulis dalam mengolah rasa sakit menjadi doa yang indah.
Penutup: Berlabuh pada Nama-Nya
Akhirnya, keresahan hanyalah cara Tuhan untuk
memanggil kita agar kembali menyebut Nama-Nya. Tanpa rasa resah, mungkin kita
tidak akan pernah sungguh-sungguh merasakan betapa kokohnya bersandar pada AsmaMu.
Terima kasih kepada Gemini AI yang telah
membantu membedah kedalaman makna puisi ini. Semoga setiap kali kita merasa
rapuh, kita diingatkan untuk kembali mencari sandaran pada Nama-Nya yang tak
pernah usang.
Salam hangat,
I Gusti Bagus Dharmadjaya
Dikutip dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata
Air" (2022) ISBN:
978-623-5774-58-9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar