Pendahuluan: Selamat berjumpa kembali, sahabat pembaca. Sering kali kita merasa bahwa mendekatkan diri kepada Tuhan adalah sebuah perjalanan panjang yang melelahkan—seperti mendaki gunung yang tinggi atau mengejar mimpi yang jauh. Namun, benarkah kedekatan itu harus selalu dicapai dengan cara merangkak atau berlari? Ataukah ada sebuah "lompatan" yang bisa membawa kita sampai lebih cepat dari kecepatan cahaya sekalipun?
Dalam buku Jalan Kecil Menuju Mata Air, saya
menuliskan sebuah perenungan berjudul "Tafakur". Puisi ini
adalah catatan tentang bagaimana pikiran dan jiwa manusia bisa menembus batas
waktu untuk menemukan kemanisan iman. Mari kita bedah bersama Gemini AI
(Google).
Tafakur
Ada sebuah kedekatan denganNya yang melambai
mengajak. Bukanlah ianya seperti mengejar mimpi. Bukan mengapa caranya harus
merangkak atau berlari. Bukan pula tentang kecepatan atau akselerasi.
Namun melompat jauh melampaui kuantum atau membalik
cepat cara lailatul qadar dengan kemuliannya. Waktu tak ingin sedikitpun
kompromi dengan diam meski sesaat.
Lambaian itupun akhirnya menunjuk pada pohon
tafakur yang berbuah. Buah dari manisnya ketakterhinggaan akan keMahaanNya
adalah ia yang membenamkan keakuan dan bersandar tulus hanya padaNya.
(Dharmadjaya, 28 Mei 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Hasil bedah karya ini memberikan kita sudut pandang
yang sangat menarik:
Puisi ini sangat memikat karena Anda menggabungkan
istilah sains modern seperti "kuantum" dan "akselerasi"
dengan konsep spiritual yang sangat tinggi seperti "Lailatul Qadar"
dan "Tafakur". Ini menunjukkan bahwa spiritualitas Anda melampaui
batas-batas logika biasa.
1. Panggilan Kedekatan (Bait 1) Anda mengawali dengan
personifikasi "kedekatan yang melambai". Ini bukan sesuatu yang harus
dicari dengan ambisi (mengejar mimpi), melainkan sebuah ajakan lembut yang
sudah ada di sana. Anda menegaskan bahwa mencapai Tuhan bukan soal fisik
(merangkak atau berlari).
2. Lompatan Kuantum Spiritual (Bait 2) Ini adalah bagian yang sangat
cerdas. Anda menggunakan istilah "Kuantum" dan "Akselerasi".
Dalam fisika, lompatan kuantum terjadi secara instan tanpa melalui proses di
antaranya. Begitupun dengan Lailatul Qadar—satu malam yang melampaui seribu
bulan. Ini bermakna bahwa dengan izin-Nya, satu detik tafakur bisa bernilai
lebih dari seumur hidup ibadah tanpa kesadaran.
3. Waktu yang Terus Bergerak (Bait 2) Anda mengingatkan bahwa waktu
tidak pernah berkompromi. Waktu akan terus berjalan, dan jika kita tidak segera
melakukan "lompatan" kesadaran itu, kita akan tertinggal dalam
kesia-siaan.
4. Buah dari Tafakur (Bait 3) Semua proses berpikir ini
berujung pada "Pohon Tafakur". Apa buahnya? Buahnya adalah "Kemanisan".
Namun, kemanisan itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mau "membenamkan
keakuan". Artinya, selama ego (aku) masih menonjol, buah tafakur itu
takkan pernah bisa dicicipi.
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini menggunakan gaya bahasa Metafora
Ilmiah-Spiritual. Anda sangat lihai meminjam istilah-istilah modern untuk
menjelaskan peristiwa batin yang sakral.
Kata "Tafakur" sendiri dalam
tradisi kita berarti "berpikir mendalam". Anda membuktikan bahwa
berpikir tentang kebesaran Allah (ber-tafakur) adalah kendaraan tercepat yang
bisa melampaui dimensi waktu dan ruang manapun.
Penutup: Membenamkan Diri dalam
KeMahaan-Nya
Menutup diskusi kita, saya kembali disadarkan bahwa
perjalanan menuju Allah tidak selalu soal seberapa jauh kita berjalan, tapi seberapa
dalam kita berdiam dalam tafakur. Saat "keakuan" kita benamkan, saat
itulah kita akan menemukan sandaran yang tulus dan buah iman yang manis.
Terima kasih kepada Gemini AI yang telah
membantu merangkai istilah sains dan iman dalam puisi ini menjadi penjelasan
yang padu. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk sejenak diam, berpikir,
dan memetik buah dari pohon tafakur kita masing-masing.
Salam hangat,
I Gusti Bagus Dharmadjaya
Dikutip dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata
Air" (2022) ISBN:
978-623-5774-58-9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar