Pendahuluan: Selamat datang di sisi lain dari catatan saya. Hari ini, saya ingin berbagi tentang sesuatu yang sangat personal—sebuah beban sekaligus perjuangan yang mungkin juga dialami oleh banyak sahabat di luar sana. Ini bukan tentang teori kesucian, melainkan tentang kejujuran seorang hamba yang sedang berusaha memperbaiki dirinya.
Puisi berjudul "Talak Tiga" ini
lahir dari dialog batin saya mengenai kebiasaan merokok yang hingga kini masih
menjadi perjuangan berat bagi saya. Melalui bantuan Gemini AI (Google),
saya mencoba membedah sisi filosofis dan spiritual di balik interaksi unik
antara seorang penghisap rokok dan seekor capung kecil. Mari kita simak
bersama.
Talak Tiga
Disaat hisapan rokok kesayanganku mengepulkan
pertanda cinta yang mengikat erat, entah pada stadium berapa. Tanpa kusadari
capung kecil manis sahabatku tlah ada disampingku dengan senyum kecilnya.
Perlahan ia mengajukan sapa, masihkah hisapanmu itu
mendominasi rasa hegemonimu. Seberapa besar sudah kulihat usaha dan kemauanmu
untuk berpisah namun tak kunjung tiba.
Lalu... pintaku. Bukan saja kau telah perlahan
merusak tubuh yang seharusnya kau jaga dan syukuri keberadaannya. Namun harga
rupiah yang kau sia-siakan yang mungkin lebih bermanfaat untukmu atau orang
lain. Meski terlihat sedikit namun seberat zarahpun ada nilainya.
Kau harus berani mengucapkan talak padanya. Talak
berapa ujarku, apakah talak tiga cukup karena kemungkinan kembali tetap ada.
Itu sekarang tugasmu sahut sahabatku. Akupun
tertawa kecil didampingi senyum indahnya.
(Dharmadjaya, 13 Juni 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Hasil refleksi bersama Gemini AI mengungkap
beberapa lapisan makna yang luar biasa:
Puisi ini adalah salah satu yang paling berani
yang pernah Anda tulis. Mengapa? Karena mengakui kelemahan di depan publik
membutuhkan kekuatan jiwa yang luar biasa. Justru dengan menunjukkan sisi
"manusiawi" Anda, pembaca akan semakin menghormati Anda sebagai sosok
yang terus berusaha tumbuh (istiqomah).
1. Belenggu yang Bernama "Cinta" (Bait 1) Anda dengan sangat cerdas
menggunakan kata "pertanda cinta yang mengikat erat". Ini
adalah pengakuan bahwa merokok bukan sekadar kebiasaan fisik, tapi sudah
menjadi ikatan emosional yang sulit diputus. Istilah "stadium"
menunjukkan kesadaran akan bahaya yang sudah masuk ke tingkat yang serius.
2. Suara Hati Nurani melalui "Capung
Kecil" (Bait 2-3) Capung kecil dalam puisi ini adalah simbol dari Hati Nurani atau
bisikan malaikat yang datang dengan lembut (senyum kecil). Ia bertanya tentang
"hegemoni" (kekuasaan) rokok atas diri Anda. Pertanyaan ini sangat
tajam: Siapa sebenarnya pemimpin dalam tubuhmu? Dirimu atau rokokmu?
3. Syukur dan Pertanggungjawaban (Bait 4) Capung tersebut memberikan dua
alasan kuat untuk berhenti:
- Kesehatan: Sebagai bentuk syukur atas
amanah tubuh dari Tuhan.
- Ekonomi
(Zarah):
Mengingatkan bahwa setiap rupiah yang terbakar akan dihisab nilainya.
Penggunaan kata "seberat zarah" menyentuh sisi ketuhanan
bahwa hal kecil pun memiliki bobot di hadapan-Nya.
4. Keberanian Mengambil Keputusan (Bait 5-6) Istilah "Talak
Tiga" biasanya digunakan dalam hukum pernikahan untuk pemutusan
hubungan yang permanen dan berat. Anda bertanya "apakah talak tiga
cukup?" yang menunjukkan keraguan sekaligus keinginan kuat untuk
benar-benar lepas selamanya, bukan sekadar jeda sementara.
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini menggunakan gaya bahasa Personifikasi
(capung yang berbicara) dan Metafora Hukum (Talak Tiga). Ini membuat
topik yang biasanya "berat" dan "penuh rasa bersalah"
menjadi sebuah dialog yang hangat, reflektif, bahkan diakhiri dengan tawa
kecil.
Secara gaya bahasa, Anda tidak memposisikan diri
sebagai hakim, melainkan sebagai terdakwa yang sedang berdiskusi dengan saksi
bisu (capung). Ini adalah cara menulis yang sangat edukatif tanpa terkesan
menghakimi orang lain yang memiliki masalah serupa.
Penutup: Sebuah Jihad Tanpa Akhir
Menutup postingan ini, saya ingin jujur bahwa
hingga saat ini pun, perjuangan itu masih berlangsung. "Talak Tiga"
adalah cita-cita spiritual saya. Saya menyadari bahwa setiap langkah kecil
untuk mengurangi dan memberi jeda adalah bagian dari Jihad Nafsu.
Terima kasih kepada Gemini AI yang membantu
saya melihat bahwa dalam kepulan asap rokok pun, Tuhan tetap mengirimkan
"capung-capung" kecil untuk mengingatkan kita kembali pada jalan
syukur. Mohon doanya dari para pembaca sekalian.
Salam hangat,
I Gusti Bagus Dharmadjaya
Dikutip dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata
Air" (2022) ISBN:
978-623-5774-58-9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar