Pendahuluan: Selamat pagi, sahabat pembaca. Dalam perjalanan menuju "Mata Air" keimanan, ada satu sosok yang menjadi pelita paling terang, yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia, kita seringkali merasa kecil dan penuh dosa, sehingga harapan terbesar kita di akhir perjalanan nanti adalah sebuah pertolongan yang disebut Syafaat.
Dalam
buku Jalan Kecil Menuju Mata Air, saya menuliskan getaran hati saya
tentang kerinduan akan syafaat dan pentingnya memfanakan diri di hadapan Allah.
Puisi ini adalah sebuah doa sekaligus pengakuan bahwa segala gelar duniawi
takkan berarti tanpa rahmat-Nya. Mari kita simak pemaparan maknanya bersama Gemini
AI (Google).
Pemilik Syafaat
Duhai
Nabi pemilik hak syafaat dari Allah, yang berkedudukan tinggi disisiNya,
shalawat dan salam atasmu. Kau hantar kami pada kecerdasan tauhid bagi yang
berkenan hingga frekuensi kedekatan akan terhubung langsung denganNya juga
lewat nur ilahi yang ada padamu.
Sungguh...
kematian dan akhirat tidak butuh harta dunia dan gelar keakuan namun butuh
syafaatmu. Shalawat untukmu ya Rasulullah.
Ya Allah
ajari dan pahamkanlah kami agar mampu mengkosongkan dan memfanakan diri serta
mentakterhinggakan Kau dengan kemutlakan baqaMu.
Hingga
kami jadi orang pilihan dan hingga kau pertemukan kami dengan yang dicintai,
pemilik hak syafaat dariMu. Semua itupun hanya karenaMu ya Allah.
(Dharmadjaya,
26 Mei 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Melalui
diskusi mendalam, berikut adalah butir-butir mutiara yang terkandung dalam
puisi ini:
1.
Rasulullah sebagai Wasilah (Bait 1) Anda menggambarkan Rasulullah sebagai penghubung.
Istilah "Kecerdasan Tauhid" sangat menarik—ini bukan sekadar
pintar secara logika, tapi cerdas secara ruhani. Anda menyebut tentang "Frekuensi
kedekatan", yang bermakna bahwa melalui shalawat dan mengikuti nur
(cahaya) Nabi, sinyal spiritual manusia akan lebih mudah "terhubung"
langsung dengan Allah SWT.
2.
Ketidakberdayaan di Hadapan Kematian (Bait 2) Bait ini adalah sebuah pengingat yang tajam. Saat
ajal menjemput, semua "Gelar Keakuan" (jabatan, status sosial,
kebanggaan diri) akan runtuh. Yang tersisa hanyalah kebutuhan akan syafaat. Ini
adalah bentuk kerendahan hati seorang hamba yang menyadari kemiskinannya di
hadapan akhirat.
3. Konsep
Fana dan Baqa (Bait 3) Ini adalah bagian yang sangat dalam secara tasawuf. Anda meminta agar
Allah mengajari cara "mengosongkan diri" (fana). Artinya,
membuang ego dan rasa memiliki, sehingga yang tersisa di dalam hati hanyalah
Allah yang Maha Baqa (Kekal). Seseorang tidak akan bisa
"berisi" cahaya Tuhan jika wadah hatinya masih penuh dengan
"aku".
4.
Harapan Pertemuan (Bait 4) Tujuan akhir dari jihad melawan ego adalah agar layak menjadi
"orang pilihan" dan dipertemukan dengan Nabi Muhammad SAW. Namun,
Anda menutupnya dengan kalimat tauhid yang mutlak: "Semua itupun hanya
karenaMu ya Allah". Ini menegaskan bahwa bahkan untuk mencintai Nabi
pun, kita butuh pertolongan Allah.
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini
menggunakan gaya bahasa Litani atau Doa. Kalimat-kalimatnya mengalir
seperti dzikir yang khusyuk. Penggunaan istilah ilmiah seperti "frekuensi"
yang dipadukan dengan istilah sufistik seperti "baqa"
menunjukkan bahwa bagi penulis, iman adalah sesuatu yang bersifat pasti dan
bisa dirasakan getarannya secara nyata.
Pilihan
kata yang digunakan sangat luhur, mencerminkan rasa hormat (adab) yang sangat
tinggi kepada Sang Pencipta dan Rasul-Nya.
Penutup: Cahaya di Atas Cahaya
Menutup
perenungan pagi ini, saya kembali diingatkan bahwa mencintai Nabi adalah jalan
pintas untuk dicintai Allah. Semoga kita tidak hanya sibuk mengumpulkan bekal
dunia yang sementara, tetapi juga sibuk memperbaiki "frekuensi"
shalawat kita agar kelak diakui sebagai umat beliau.
Terima
kasih kepada Gemini AI yang telah membantu menerjemahkan getaran ruhani
dalam puisi ini ke dalam bahasa yang jernih. Semoga kita semua dikumpulkan
bersama Sang Pemilik Syafaat.
Salam
hangat,
I Gusti
Bagus Dharmadjaya
Dikutip
dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata Air" (2022) ISBN: 978-623-5774-58-9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar