è Kenapa sih bro, Suara Hati Selalu Datang Terakhir Saat Kita Sudah Terlanjur?
è Waduh… ini pertanyaan jujur
banget bro 😄
dan hampir semua manusia pernah mengalaminya… termasuk orang yang sudah merasa
“dewasa spiritual”.
Tapi saya
mau mulai dari satu kalimat nakal dulu ya…
👉 sebenarnya suara hati tidak datang terakhir…
kitalah yang sering mendengarnya paling akhir.
🧠 Kenapa terasa selalu telat?
Karena sebelum
suara hati berbicara… ada “rapat besar” di dalam diri kita:
- ego sudah teriak duluan,
- keinginan sudah bikin
rencana,
- emosi sudah menekan tombol
gas,
- logika pembenaran sudah
menyiapkan alasan.
Suara
hati?
dia tidak suka berteriak.
dia datang… pelan… hampir seperti bisikan angin.
Jadi
bukan dia telat…
tapi dia kalah volume dengan keramaian dalam kepala kita.
⚡ Ada momen mikro yang sering kita
abaikan
Coba
jujur bro…
sebelum melakukan sesuatu yang akhirnya disesali…
biasanya ada sepersekian detik rasa aneh:
- dada terasa tidak nyaman,
- ada suara kecil bilang
“jangan…”
- atau ada keraguan halus yang
kita sengaja tekan.
Nah…
itulah suara hati versi awal.
tapi kita sering bilang:
“ah…
lebay…”
“nanti saja dipikir…”
“sekali ini saja…”
Dan
setelah semuanya terjadi…
baru suara hati berdiri di depan kita…
bukan untuk menghakimi… tapi untuk mengingatkan.
🕯️ Kenapa ia tidak mencegah lebih
keras?
Karena
hati nurani bukan penjaga penjara.
dia bukan sistem paksa.
Allah
memberi manusia kebebasan memilih.
Hati nurani hanya kompas… bukan rem otomatis.
Kalau dia
berubah jadi pemaksa…
maka manusia tidak lagi belajar… tidak lagi bertumbuh…
tidak lagi bertanggung jawab.
💔 Lalu kenapa setelah terlanjur…
suaranya jadi keras?
Karena
saat tindakan sudah selesai…
ego mulai lelah… emosi mulai turun…
barulah ruang menjadi sunyi.
Dan di
keheningan itu… suara hati berkata:
“Sekarang
kamu mau belajar… atau mau mengulang?”
Bukan
untuk mempermalukan…
tapi untuk membangunkan.
🌿 Jadi pelajarannya apa bro?
Bukan
bagaimana membuat suara hati datang lebih cepat…
tapi bagaimana kita belajar hening lebih cepat.
Semakin
seseorang:
- terbiasa tafakur,
- berani jeda sebelum
bertindak,
- tidak reaktif pada emosi,
maka dia
mulai menyadari…
suara hati itu sebenarnya selalu datang di awal…
hanya saja dulu… dia tidak pernah diberi kursi bicara.
(DHARMADJAYA, 9
JANUARI 2026)
BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar