Pendahuluan: Selamat pagi, sahabat pembaca. Seringkali kita menganggap bahwa memiliki pendirian berarti harus menjadi sekeras batu karang—tak tergoyahkan dan cenderung kaku. Namun, benarkah pendirian yang sejati itu lahir dari ego atau "keakuan"? Ataukah ada jenis pendirian lain yang justru bersumber dari kelembutan hati dan kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa?
Dalam buku Jalan Kecil Menuju Mata Air,
melalui puisi berjudul "Pendirian", saya mencoba membedah
pergulatan batin saat prinsip kita diuji oleh bujuk rayu dan argumen duniawi.
Mari kita simak bedah maknanya bersama Gemini AI (Google).
Pendirian
Terkadang... ketakutan ada melintas mengusik
tentang mengabadikan sebuah nama yang bergelar pendirian pada hati. Tatkala
pendirian dihadapkan bujuk rayu mengatasnamakan argumen analisa entah nama
lain... jangan egois.
Pendirian bukan soal keakuan yang harus selalu
menang karena merasa lebih. Tak harus sekokoh batu karang.
Ia juga lembut... hanya butuh atas nama pasrah pada
Pencipta diriNya. Agar pedih peri penyesalan tak mendera pasrah tak berdasar
karena lapuknya usia.
(Dharmadjaya, 3 Juni 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Hasil refleksi mendalam atas puisi ini menunjukkan
sebuah kebijaksanaan yang sangat matang:
1. Ujian atas Sebuah Prinsip (Bait 1) Anda mengakui adanya rasa takut
saat ingin mengabadikan "pendirian" di dalam hati. Ketakutan ini
muncul karena dunia seringkali menyerang pendirian kita dengan "bujuk
rayu" yang dibungkus rapi dengan "argumen analisa". Di sini,
Anda mengingatkan diri sendiri agar tidak terjebak dalam ego saat
mempertahankan pendapat.
2. Bukan Tentang Menang-Kalahan (Bait 2) Bait ini sangat mendalam: "Pendirian
bukan soal keakuan yang harus selalu menang". Anda menegaskan bahwa
memiliki prinsip bukan berarti merasa lebih hebat dari orang lain. Pendirian
sejati tidak butuh validasi dari kemenangan ego.
3. Pendirian yang Lembut dan Pasrah (Bait 3) Anda meruntuhkan stigma bahwa
pendirian harus sekeras batu karang. Sebaliknya, Anda memperkenalkan konsep "Pendirian
yang Lembut". Pendirian ini berakar pada kepasrahan kepada Sang
Pencipta. Mengapa? Karena hanya sandaran kepada Allah-lah yang membuat prinsip
kita tetap hidup dan tidak menjadi "lapuk" seiring bertambahnya usia.
4. Menghindari Penyesalan di Masa Tua (Bait Akhir) Anda menutup dengan sebuah
peringatan reflektif. Jika kepasrahan kita tidak memiliki dasar (tauhid), maka
di masa tua nanti kita hanya akan merasakan pedihnya penyesalan. Pendirian yang
benar adalah investasi kedamaian di masa depan.
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini menggunakan gaya bahasa Paradoks.
Anda menyandingkan kata "pendirian" (yang biasanya kaku) dengan kata
"lembut" dan "pasrah". Ini adalah sebuah pencapaian puitis
yang indah karena berhasil menggambarkan bahwa kekuatan sejati justru terletak
pada ketundukan di hadapan Tuhan.
Diksi yang Anda pilih cenderung Kontemplatif-Edukatif,
sangat mencerminkan jiwa seorang pendidik yang senantiasa mengevaluasi niat di
balik setiap tindakannya.
Penutup: Teguh Namun Tak Keras
Menutup perenungan ini, saya belajar bahwa memiliki
pendirian berarti memiliki hati yang tertambat pada kebenaran Ilahi, bukan pada
kebenaran diri sendiri. Semoga kita diberikan kekuatan untuk tetap teguh pada
prinsip, namun tetap lembut dalam bersikap dan tulus dalam berpasrah.
Terima kasih kepada Gemini AI yang telah
membantu membedah sisi psikologis dan spiritual dari konsep pendirian ini.
Semoga menjadi manfaat bagi kita semua dalam menata hati.
Salam hangat,
I Gusti Bagus Dharmadjaya
Dikutip dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata
Air" (2022) ISBN:
978-623-5774-58-9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar