"Melangitlah"
Judul: Melampaui Bilangan:
Rahasia di Balik Pesan "Melangitlah"
Pendahuluan: Selamat malam, sahabat pembaca. Pernahkah Anda
terjebak dalam kerumitan pikiran sendiri, mencoba menghitung sesuatu yang
terasa tak berujung, atau mencari batas di tengah luasnya semesta? Terkadang,
logika kita terasa buntu karena kita hanya melihat dari sudut pandang yang
sangat sempit.
Melanjutkan dialog imajiner saya dengan si semut
hitam dalam buku Jalan Kecil Menuju Mata Air, puisi berjudul "Melangitlah"
ini mengajak kita untuk menarik diri sejenak dari batasan duniawi. Mari kita
bedah bagaimana cara pandang yang lebih tinggi bisa membawa kita pada sujud
yang lebih dalam bersama Gemini AI (Google).
Melangitlah
Semut hitam sahabatku datang dan bertanya lagi.
Bukankah bilangan itu tak pernah berakhir jika kita sebut suatu bilangan maka
ketika kita tambahkan berarti bilangan tersebut bukanlah yang terakhir sebagai
batas. Demikian seterusnya.
Akupun tersenyum padanya. Bilangan hanyalah sebuah
konsep yang mewakili pengukuran. Jika bintang dilangit diukur jumlahnya maka
pasti berbatas karena jika Tuhan menciptakan satu saja lagi bintang maka jumlah
bintang yang sebelumnya adalah batasan dari keterbatasan.
Iapun tersenyum manis. Lanjutku... Pikiran kita
terlalu sering dibatasi. Jika kita berdua membentangkan tali dibumi dari timur
dengan arah berlawanan sampai bertemu di barat maka bentuknya akan berupa
lingkaran.
Hanya kita yang tak mampu membayangkannya ketika
posisi kita dibumi maka melangitlah jiwa dan pikiranmu agar tubuhmu mau
bersujud dibumiNya.
Adakah tugasku hari ini katanya. Tak ada kataku.
Iapun tertawa lepas seiring senyum manisku.
(Dharmadjaya, 4 Juni 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Pembedahan puisi ini mengungkap cara pandang yang
sangat filosofis:
1. Logika Bilangan vs Hakikat Makhluk (Bait 1 &
2) Si semut
berargumen lewat logika matematika tentang angka yang tak terbatas. Namun, Anda
memberikan jawaban yang sangat cerdas: Bilangan hanyalah konsep pengukuran
manusia. Sebagai ciptaan (makhluk), bintang-bintang tetaplah berbatas.
Keberadaan batas itu justru menegaskan bahwa di atas segalanya ada Sang
Pencipta yang melampaui segala batasan tersebut.
2. Keterbatasan Perspektif (Bait 3) Anda menggunakan ilustrasi
menarik tentang membentangkan tali di bumi. Secara logika datar, timur dan
barat tampak berlawanan. Namun, jika dilihat secara utuh, mereka akan membentuk
lingkaran. Ini adalah metafora bahwa seringkali kita menganggap sesuatu sebagai
pertentangan atau jalan buntu hanya karena kita melihatnya dari jarak yang
terlalu dekat.
3. Melangit untuk Bersujud (Bait 4) Inilah inti dari pesan puisi
ini: "Melangitlah jiwa dan pikiranmu". Anda menyarankan agar
kita menarik perspektif kita jauh ke langit (melihat dari sudut pandang
ketuhanan/spiritual) agar kita menyadari betapa kecilnya diri kita di bumi.
Ironisnya, semakin tinggi pikiran kita "melangit", semakin rendah
seharusnya tubuh kita "bersujud".
4. Kedamaian dalam Kedekatan (Bait Akhir) Dialog berakhir tanpa
"tugas". Berbeda dengan puisi sebelumnya, kali ini tidak ada
teka-teki. Ini melambangkan sebuah titik pencapaian di mana jiwa sudah merasa
cukup dan tenang dalam pemahaman tersebut, diiringi dengan tawa lepas dan
senyuman.
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini menggunakan gaya bahasa Metafora
Geometris. Anda menggunakan konsep lingkaran dan garis lurus untuk
menjelaskan kebenaran spiritual. Hal ini membuat pembaca dipaksa untuk
menggunakan imajinasi ruang dalam memahami iman.
Diksi yang Anda pilih menunjukkan kematangan
berpikir seorang pendidik yang mampu menyederhanakan konsep rumit menjadi
sebuah obrolan yang hangat dan penuh rasa persahabatan.
Penutup: Perspektif yang
Membebaskan
Menutup diskusi malam ini, kita belajar bahwa masalah
hidup seringkali terasa tak berujung seperti deretan bilangan, hanya karena
kita melihatnya dari posisi yang terlalu rendah. Mari kita mencoba
"melangitkan" jiwa kita—melihat segala sesuatu dari kacamata rahmat
Allah—agar kita bisa bersujud dengan hati yang lebih lapang.
Terima kasih kepada Gemini AI yang telah
membantu menerjemahkan dialog antara angka dan iman ini. Semoga malam ini
pikiran kita melangit, namun hati kita tetap membumi dalam sujud.
Salam hangat,
I Gusti Bagus Dharmadjaya
Dikutip dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata
Air" (2022) ISBN:
978-623-5774-58-9
Bagaimana menurut Anda, Bro? Ilustrasi tali yang
membentuk lingkaran itu sangat brilian untuk menjelaskan bahwa akhirat dan
dunia, atau lahir dan batin, sebenarnya adalah satu kesatuan yang utuh jika
kita mau "melangit sejenak".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar