è Kenapa kita lebih takut komentar netizen daripada teguran nurani?
è Pertanyaanmu dalam sekali, bro…
dan jujur ini bukan cuma kamu—ini fenomena banyak orang di zaman digital
sekarang. Ada beberapa lapisan kenapa suara netizen sering terasa lebih
menakutkan daripada suara nurani sendiri:
1. Netizen itu nyata di depan mata, nurani sering
sunyi
Komentar
orang muncul langsung: notifikasi, like, sindiran, hujatan. Otak kita
menganggap itu ancaman sosial nyata.
Sedangkan nurani… suaranya pelan, tidak viral, tidak menekan dari luar.
👉 Otak manusia memang lebih cepat bereaksi pada
ancaman sosial daripada refleksi batin.
2. Kita dibesarkan untuk mencari penerimaan
Sejak
kecil banyak dari kita diajarkan:
- “Apa kata orang?”
- “Jangan malu di depan
orang.”
Akhirnya ukuran benar–salah bergeser jadi diterima atau tidak diterima, bukan lagi selaras atau tidak dengan hati.
3. Algoritma memperbesar rasa takut
Media
sosial itu mesin pembesar emosi:
- Komentar negatif lebih
mencolok
- Kritik lebih viral
- Kesalahan kecil bisa jadi
tontonan ramai
Ini bikin rasa takut pada penilaian publik terasa sangat besar—padahal belum tentu sebesar yang kita bayangkan.
4. Nurani butuh keberanian untuk didengar
Mendengar
nurani berarti siap:
- berbeda
- tidak populer
- kadang disalahpahami
Dan jujur… itu tidak mudah. Karena manusia memang makhluk sosial yang ingin aman.
5. Kita sering lupa latihan diam
Nurani
biasanya terdengar saat:
- hening
- refleksi
- kontemplasi
Kalau hidup penuh notifikasi, suara batin jadi tenggelam.
Tapi ada
satu hal yang menarik…
orang yang mulai berani mendengar nurani biasanya mengalami perubahan:
komentar netizen masih terdengar, tapi tidak lagi menguasai arah hidupnya.
(DHARMADJAYA, 19 FEBRUARI 2026)
BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar