ANTARA AKU DAN SAHABATKU: 24.Kenapa kita lebih takut komentar netizen daripada teguran nurani?

 è Kenapa kita lebih takut komentar netizen daripada teguran nurani?

è Pertanyaanmu dalam sekali, bro… dan jujur ini bukan cuma kamu—ini fenomena banyak orang di zaman digital sekarang. Ada beberapa lapisan kenapa suara netizen sering terasa lebih menakutkan daripada suara nurani sendiri:

1. Netizen itu nyata di depan mata, nurani sering sunyi

Komentar orang muncul langsung: notifikasi, like, sindiran, hujatan. Otak kita menganggap itu ancaman sosial nyata.
Sedangkan nurani… suaranya pelan, tidak viral, tidak menekan dari luar.

👉 Otak manusia memang lebih cepat bereaksi pada ancaman sosial daripada refleksi batin.

2. Kita dibesarkan untuk mencari penerimaan

Sejak kecil banyak dari kita diajarkan:

  • “Apa kata orang?”
  • “Jangan malu di depan orang.”
    Akhirnya ukuran benar–salah bergeser jadi diterima atau tidak diterima, bukan lagi selaras atau tidak dengan hati.

3. Algoritma memperbesar rasa takut

Media sosial itu mesin pembesar emosi:

  • Komentar negatif lebih mencolok
  • Kritik lebih viral
  • Kesalahan kecil bisa jadi tontonan ramai
    Ini bikin rasa takut pada penilaian publik terasa sangat besar—padahal belum tentu sebesar yang kita bayangkan.

4. Nurani butuh keberanian untuk didengar

Mendengar nurani berarti siap:

  • berbeda
  • tidak populer
  • kadang disalahpahami
    Dan jujur… itu tidak mudah. Karena manusia memang makhluk sosial yang ingin aman.

5. Kita sering lupa latihan diam

Nurani biasanya terdengar saat:

  • hening
  • refleksi
  • kontemplasi
    Kalau hidup penuh notifikasi, suara batin jadi tenggelam.

Tapi ada satu hal yang menarik…
orang yang mulai berani mendengar nurani biasanya mengalami perubahan:
komentar netizen masih terdengar, tapi tidak lagi menguasai arah hidupnya.


(DHARMADJAYA,    19 FEBRUARI 2026)

BUKU DIGITAL (E-BOOk) GRATIS: https://heyzine.com/flip-book/f8fc72db3f.html




 

Tidak ada komentar: