"Pasrah"
Malam ini kita menutup sesi dengan sebuah puisi
yang sangat menenangkan, Bro. Puisi "Pasrah" ini adalah obat
bagi jiwa-jiwa yang sedang lelah berjuang. Anda memberikan definisi baru
tentang kepasrahan: bahwa pasrah bukanlah bentuk kekalahan, melainkan puncak
dari sebuah keberanian dan kedewasaan.
Judul: Pasrah: Seni Menjemput
Kedamaian di Puncak Usaha
Pendahuluan: Selamat malam, sahabat pembaca. Seringkali kita
merasa hancur hanya karena satu kerikil kecil yang menghalangi jalan. Kita
membiarkan masalah sederhana menenggelamkan seluruh semangat kita ke dasar
samudera kegelapan. Mengapa kita cenderung membesar-besarkan beban yang
seharusnya bisa kita tanggung?
Dalam buku Jalan Kecil Menuju Mata Air,
melalui puisi berjudul "Pasrah", saya ingin berbagi tentang
bagaimana cara menyikapi hidup dengan lebih proporsional dan elegan. Mari kita
bedah makna "pasrah" yang sesungguhnya bersama Gemini AI (Google).
Pasrah
Kuyakin sangat bahwasanya itu bukanlah dirimu yang
sesungguhnya. Yang hanya dengan masalah kecil tlah mampu menenggelamkanmu
kedasar samudera terdalam dan gelap. Bagaimana mungkin hanya untuk menelan
sebutir pil pahit harus menghabiskan tiga tong air. Sungguh luar biasa caramu
menyikapi.
Kedewasaan bukan masalah usia, namun siapa yang
lebih mampu menyikapi. Pasrah bukan berarti lemah. Setelah segenap usaha, dan
doa dipanjatkan belum berbuah manis maka giliran pasrah untuk mengambil alih
adalah sikap termanis.
(Dharmadjaya, 11 Juni 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Pembedahan puisi ini mengungkap sebuah manajemen
emosi yang sangat tinggi:
1. Teguran atas Reaksi Berlebihan (Bait 1) Anda mengawali dengan kalimat
penguat: "Kuyakin sangat bahwasanya itu bukanlah dirimu yang
sesungguhnya". Anda sedang mengingatkan seseorang (atau diri sendiri)
bahwa kita lebih kuat dari masalah kita. Analogi "menelan sebutir pil
pahit dengan tiga tong air" adalah sebuah sindiran yang cerdas
sekaligus jenaka tentang betapa seringnya manusia bersikap berlebihan dalam
menghadapi cobaan kecil.
2. Definisi Kedewasaan (Bait 2) Di sini Anda memberikan
pernyataan kunci: kedewasaan tidak diukur dari angka usia, melainkan dari cara
menyikapi keadaan. Kedewasaan adalah kemampuan untuk tetap tenang dan tidak
kehilangan arah saat rencana tidak berjalan sesuai keinginan.
3. Pasrah Sebagai Strategi "Termanis"
(Bait 2 - Lanjutan) Anda
meluruskan salah kaprah tentang kepasrahan. Pasrah bukan berarti menyerah tanpa
syarat di awal. Pasrah adalah sebuah fase yang datang setelah usaha
maksimal dan doa yang tak putus dilakukan. Ketika dunia tetap tak memberikan
jawaban "manis", maka menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah adalah "sikap
termanis". Pasrah di sini adalah bentuk kepercayaan penuh (tawakkal)
kepada Sang Sutradara Kehidupan.
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini menggunakan gaya bahasa Satir Lembut
dan Aforisme. Penggunaan perbandingan "pil pahit" dan "tiga
tong air" memberikan kesan humor namun menohok pikiran. Kalimat-kalimatnya
pendek dan padat, menyerupai kata-kata mutiara (aforisme) yang mudah diingat
dan dijadikan pegangan hidup.
Diksi yang dipilih menunjukkan kebijaksanaan
seorang pendidik yang sering mengamati berbagai karakter manusia dalam
menghadapi tekanan.
Penutup: Menemukan Manisnya
Kepasrahan
Menutup perenungan malam ini, mari kita bertanya
pada diri sendiri: apakah kita masih meminum "tiga tong air" untuk
masalah yang sebenarnya hanya "sebutir pil"? Kepasrahan adalah hak
prerogatif jiwa yang sudah lelah namun tetap percaya. Mari kita beri ruang bagi
"Pasrah" untuk mengambil alih setelah semua peluh kita tumpahkan
dalam usaha.
Terima kasih kepada Gemini AI yang telah
membantu merumuskan hakikat kepasrahan ini. Semoga tidur kita malam ini tenang,
dalam dekapan kepasrahan yang termanis kepada-Nya.
Salam hangat,
I Gusti Bagus Dharmadjaya
Dikutip dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata
Air" (2022) ISBN:
978-623-5774-58-9
Sangat menyejukkan, Bro. Analogi "tiga tong
air" itu benar-benar mengena—seringkali drama yang kita buat lebih besar
daripada masalahnya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar