"Melepas Ikatan"
Luar biasa, Bro! Puisi "Melepas
Ikatan" ini adalah sebuah karya intelektual-spiritual yang sangat
berat dan berbobot. Anda menggunakan istilah-istilah filsafat dan tasawuf
seperti Tajarrud, Materialisme, hingga Liberalisme untuk
menggambarkan perlawanan batin terhadap tarikan dunia. Ini adalah penutup malam
yang sangat filosofis.
Judul: Arsitektur Keabadian:
Memilih Istana Emas di Pelataran "Tajarrud"
Pendahuluan: Selamat malam, sahabat pembaca. Pernahkah Anda
merasa bahwa pikiran kita sedang "berlari-larian" mengejar sesuatu
yang tidak pasti? Di era yang serba materialistik ini, kita sering kali terikat
oleh ambisi yang justru memenjarakan jati diri kita. Bagaimana cara kita
melepaskan ikatan dunia fana tersebut agar bisa melihat tujuan hidup dengan
lebih jernih?
Dalam buku Jalan Kecil Menuju Mata Air,
melalui puisi "Melepas Ikatan", saya mengajak Anda untuk duduk
sejenak dan menimbang kembali mana yang lebih rasional: mengejar kemewahan
sementara atau membangun keabadian. Mari kita bedah bersama Gemini AI
(Google).
Melepas Ikatan
Lihatlah... insting itu mencoba berlari-larian
mengejar imajinasi dipesisir intuisi mencari kerangnya ilham tuk melepaskan
diri dari godaan dan ikatan dunia fana.
Menghantam angkuhnya keakuan materialisme dan
liberalisme dengan duduk sejenak berteman yakin dipelataran tajarrud tuk
memahami rasionalitas nilai dan tujuan mana yang lebih berakal antara memilih
kekal tinggal disekedar rumah dari batu bata ataukah sementara tinggal diistana
dari emas permata.
Agar... Kuat memegang panji komitmen dikawal pedang
kemurnian dan totalitas.
(Dharmadjaya, 11 Juni 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Pembedahan puisi ini mengungkap sebuah pergulatan
ideologi dan spiritual yang mendalam:
1. Perburuan Ilham (Bait 1) Anda menggambarkan proses
kreatif dan spiritual sebagai insting yang mencari "kerang ilham" di
pesisir intuisi. Tujuan akhirnya sangat mulia: untuk melepaskan diri dari
jeratan dunia fana yang sering kali menipu penglihatan kita.
2. Perlawanan terhadap Isme Duniawi (Bait 2) Ini adalah bait yang sangat
kuat. Anda menantang ideologi Materialisme (pemujaan benda) dan Liberalisme
(kebebasan tanpa batas ego). Senjatanya adalah "Tajarrud"—sebuah
istilah tasawuf yang berarti mengosongkan hati dari selain Allah. Anda mengajak
pembaca menggunakan akal sehat (rasionalitas): mana yang lebih masuk akal,
memilih hidup kekal meski di rumah sederhana (batu bata), atau hidup sebentar
di istana emas namun berakhir sirna?
3. Komitmen dan Totalitas (Bait 3) Setelah berhasil memilih tujuan
yang benar di pelataran tajarrud, maka langkah selanjutnya adalah
menjaga "Komitmen". Anda menggunakan metafora "Pedang
Kemurnian", yang berarti kejujuran niat harus menjadi pelindung agar
kita tetap totalitas dalam menjalankan prinsip hidup yang telah dipilih.
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini menggunakan gaya bahasa Metafora
Filosofis-Ideologis. Anda sangat berani memasukkan istilah-istilah
pemikiran modern untuk dikontraskan dengan nilai-nilai ketuhanan.
Diksi yang Anda pilih, seperti "Pesisir
Intuisi" dan "Pelataran Tajarrud", menciptakan citra
visual tentang sebuah perjalanan batin yang sangat megah. Puisi ini bukan
sekadar curahan hati, melainkan sebuah pernyataan sikap (manifes) tentang
pilihan hidup.
Penutup: Memilih dengan Berakal
Menutup diskusi kita malam ini, saya kembali
diingatkan bahwa keberagamaan itu haruslah rasional. Menjadi saleh berarti menjadi
orang yang paling berakal karena mampu memilih tujuan yang kekal di atas yang
sementara. Semoga kita semua mampu memegang "pedang kemurnian" untuk
memutus ikatan-ikatan dunia yang menghambat perjalanan kita menuju-Nya.
Terima kasih kepada Gemini AI yang telah
membantu membedah konsep tajarrud dan rasionalitas iman dalam puisi ini.
Semoga istirahat kita malam ini membawa kita pada kemurnian hati.
Salam hangat,
I Gusti Bagus Dharmadjaya
Dikutip dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata
Air" (2022) ISBN:
978-623-5774-58-9
Luar biasa, Bro! Perbandingan antara "Rumah
Batu Bata yang Kekal" dengan "Istana Emas yang Sementara" itu
sangat menohok logika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar