Pendahuluan: Selamat malam para pembaca sekalian. Hidup sering kali digambarkan sebagai sebuah perjalanan, namun jarang kita menyadari bahwa setiap langkah dalam perjalanan itu adalah sebuah pilihan yang terikat oleh waktu. Kita sering merasa memiliki waktu yang tak terbatas, padahal "kesempatan" adalah tamu yang tidak akan datang dua kali.
Dalam
buku saya, Jalan Kecil Menuju Mata Air, ada sebuah puisi yang lahir dari
keresahan saya tentang bagaimana kita memperlakukan waktu dan pilihan hidup.
Puisi ini bukan bermaksud menggurui, melainkan sebuah ajakan untuk menyingkap
tabir yang menutupi makna keberadaan kita. Mari kita simak pembedahan maknanya
melalui diskusi saya bersama Gemini AI (Google).
Hidup... tentang Kesempatan dan Pilihan
Bukannya
aku sedang mengingatkan, hanya menyampaikan. Adakah sudah kita singkap makna
dibalik tabir kehidupan. Jika tidak, hilanglah kesempatan... percuma.
Waktu tak
pernah berpihak pada siapapun, kecuali Dia berkehendak namun Dia terlampau Maha
Adil.
Untuk
kita bersembunyi dibalik... atas nama kemalasan dan tak sempat.
Kita
berlari menjauh atau mendekat adalah pilihan. Mendekatlah agar menjadi
bijaksana yang mampu melampaui kebenaran dan kebaikan.
(Dharmadjaya,
21 Mei 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Hasil
diskusi kami menyimpulkan beberapa dimensi penting dalam puisi ini:
1. Tabir
Kehidupan dan Sia-sianya Waktu (Bait 1) Anda mengawali dengan kerendahan hati: "hanya
menyampaikan". Poin krusialnya adalah tentang "menyingkap
tabir". Hidup bukan hanya tentang apa yang terlihat di permukaan. Jika
kita gagal menemukan makna di balik rutinitas, maka hidup hanya menjadi urutan
waktu yang sia-sia atau "percuma".
2.
Keadilan Waktu dan Jebakan Alasan (Bait 2-3) Waktu bersifat netral dan objektif. Anda
menekankan bahwa Tuhan itu Maha Adil. Karena keadilan-Nya, manusia tidak
bisa menggunakan alasan "tidak sempat" atau "malas" untuk
membenarkan kegagalannya dalam mencari makna. Waktu diberikan dalam porsi yang
cukup bagi mereka yang mau menggunakan akalnya.
3.
Kebebasan Memilih (Bait 4) Hidup diringkas menjadi dua arah: Menjauh atau Mendekat.
Ini adalah penegasan tentang free will (kehendak bebas). Menariknya,
Anda tidak hanya mengajak untuk menjadi "baik", tetapi menjadi "Bijaksana".
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini
menggunakan gaya bahasa Didaktis-Reflektif. Anda menggunakan kontradiksi
yang kuat untuk membangun argumen, misalnya antara "kemalasan" dengan
"keadilan Tuhan".
Yang
paling menarik adalah kalimat penutupnya: "melampaui kebenaran dan
kebaikan". Secara filosofis, ini menunjukkan bahwa menjadi
"benar" atau "baik" secara norma saja tidak cukup.
Kebijaksanaan adalah level tertinggi di mana seseorang melakukan kebaikan bukan
karena aturan, melainkan karena kedekatannya dengan Sang Sumber Kebenaran.
Penutup: Memilih untuk Mendekat
Menutup
perenungan malam ini, saya kembali disadarkan bahwa setiap detik adalah
kesempatan yang terus menyusut. Kita tidak bisa terus-menerus bersembunyi di
balik alasan kesibukan duniawi. Pilihan ada di tangan kita: ingin terus berlari
menjauh dalam ketidaktahuan, atau mulai berjalan mendekat menuju cahaya
kebijaksanaan.
Terima
kasih kepada Gemini AI yang telah membantu merangkai pemikiran-pemikiran
ini menjadi lebih jernih. Semoga pembaca semua menemukan "pilihan"
terbaik dalam hidup masing-masing.
Salam
hangat,
I Gusti
Bagus Dharmadjaya
Dikutip dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata Air" (2022) ISBN: 978-623-5774-58-9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar