Pendahuluan: Selamat datang kembali di catatan digital saya. Sering kali, kita sebagai manusia baru tersadar akan pentingnya sesuatu justru di saat sesuatu itu mulai menjauh atau hilang dari hadapan kita. Kita sering terjebak dalam sekat-sekat "kepentingan" pribadi yang sempit, hingga lupa pada "kepedulian" terhadap tanda-tanda kebesaran-Nya yang tersebar di alam semesta.
Puisi
yang akan saya bagikan kali ini berjudul "Kepedulian dan
Kepentingan". Ini adalah sebuah tamparan kecil bagi jiwa saya sendiri,
dan mungkin bagi kita semua, tentang bagaimana kita memandang alam dan
penciptanya. Mari kita bedah lebih dalam makna di balik bait-baitnya melalui
diskusi reflektif saya bersama Gemini AI (Google).
Kepedulian dan Kepentingan
Disaat
tak seekorpun burung berkenan menampakkan wajahnya, mungkin... kitapun dengan
enteng berujar, ada urusan apa aku denganmu.
Namun
diketika setetespun air tak sudi lagi mendekat bahkan bersembunyi ditempat yang
tak mungkin dikenali.
Bagaimana
pendapatmu temanku.
Yakin...
Apapun kan dipertaruhkan.
Teramat
sering kita hanya memandang indah kepentingan tanpa mau melihat sedikit tanda
kebesaranNya. Sebagai sebuah kepedulian tuk membesarkan keagunganNya.
(Dharmadjaya,
24 Mei 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Berdasarkan
diskusi saya bersama Gemini AI, berikut adalah poin-poin penting yang
terkandung dalam puisi tersebut:
1. Ironi
Ketidakpedulian (Bait 1) Anda menggambarkan situasi di mana alam (simbol burung) mulai menjauh.
Respon manusia cenderung acuh tak acuh: "Ada urusan apa aku denganmu".
Ini merefleksikan sikap antroposentris, di mana manusia merasa tidak butuh pada
makhluk lain selama kepentingannya belum terganggu.
2. Titik
Balik Kesadaran (Bait 2-4) Situasi berubah drastis saat sumber kehidupan utama—Air—mulai
hilang. Di sini, Anda mengajukan pertanyaan retoris: "Bagaimana
pendapatmu temanku". Ketika air "bersembunyi", manusia yang
tadinya sombong tiba-tiba menjadi panik. Kalimat "Apapun kan
dipertaruhkan" menunjukkan bahwa pada akhirnya, manusia akan
mengorbankan segalanya demi bertahan hidup saat alam mulai enggan memberi.
3.
Kepentingan vs Kebesaran Tuhan (Bait 5) Bait terakhir adalah inti dari kritik spiritual
dalam puisi ini. Anda menyoroti penyakit manusia yang sering mendewakan
"kepentingan" (profit, kenyamanan, ego) di atas
"kepedulian". Anda mengajak pembaca untuk melihat alam bukan sekadar
sebagai sumber daya, melainkan sebagai "Tanda Kebesaran-Nya".
Merawat alam adalah bentuk nyata dari membesarkan keagungan Tuhan.
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini
menggunakan gaya bahasa Satire (sindiran) yang lembut namun tajam.
Penggunaan diksi seperti "tak sudi" dan "bersembunyi"
memberikan nyawa pada benda mati (personifikasi), seolah-olah alam memiliki
perasaan dan bisa memprotes perilaku manusia dengan cara menjauh.
Struktur
puisinya yang ringkas mencerminkan urgensi pesan yang ingin disampaikan: Bahwa
kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari pengabdian
kepada Sang Khaliq.
Penutup: Renungan untuk Kita Semua
Melalui
puisi ini, saya diingatkan kembali bahwa iman tidak hanya diuji melalui sujud
di atas sajadah, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan
"tanda-tanda" kebesaran-Nya di bumi. Jangan sampai kita menunggu air
bersembunyi baru kita tersadar untuk peduli.
Terima
kasih kepada Gemini AI yang telah membantu membedah sisi filosofis dari
puisi ini. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya dan teman-teman semua
untuk selalu menyelaraskan kepentingan kita dengan keagungan-Nya.
Salam
hangat,
I Gusti
Bagus Dharmadjaya
Dikutip
dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata Air" (2022) ISBN: 978-623-5774-58-9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar