Puisi JKMMA : Alampun Berzikir (13-24)

13. Alampun Berzikir

Ketersesatan berpikir tentang angin yang sering bertiup teramat pelan ditengah malam sebagai pertanda kemalasannya adalah hakikat tak beretika dan menghancurkan nilai estetika makna terkandung.
Demikian api air serta tanah dan kandungannya sedang melaksanakan tugas tanpa membantah.
Hanya kita... lah yang sesungguhnya teramat sering malas membantah dan berbuat salah, sering lupa mengingatNya.
Demikian alam semesta dan isinya berzikir mengagungkanNya.
Bahasa zikir mereka indah agung mesra hanya kita tak mengerti caranya.
 
(Dharmadjaya, 4 Juni 2021)

===

14. Haqqul Yakin

Semut hitam sahabat lamaku bertanya.
Dimana batas alam semesta ataukah tak berbatas. Akupun tersenyum dan kukatakan jika ia sebagai makhluk maka tentu berbatas.
Hanya jika kita yang mengukur lewat empiris penginderaan dan ilmu pengetahuan dan teknologi tentunya akal tak mampu mencapai batasnya.
Kita hanya berada ditepian haqqul yakin karena yang terbatas tak mungkin mencapai af'al yang tak terbatas kecuali akalmu akan terbakar.
Sebagaimana hakikat ilmu.
Diapun tersenyum manis.
Lanjutku...
Namun jika hal iman yang wajib dipercayai maka tenggelamkan dirimu sepenuhnya tanpa setitik keraguan lewat dalil aqli dan naqli.
Nikmat dan musibah termasuk jembatan haqqul yakin.
Maksudmu kata semut hitam.
Itu sekarang tugasmu.
Iapun tertawa lepas diiringi senyum manisku.
 
(Dharmadjaya, 4 Juni 2021)

===

15. Melangitlah

Semut hitam sahabatku datang dan bertanya lagi.
Bukankah bilangan itu tak pernah berakhir jika kita sebut suatu bilangan maka ketika kita tambahkan berarti bilangan tersebut bukanlah yang terakhir sebagai batas.
Demikian seterusnya.
Akupun tersenyum padanya.
Bilangan hanyalah sebuah konsep yang mewakili pengukuran.
Jika bintang dilangit diukur jumlahnya maka pasti berbatas karena jika Tuhan menciptakan satu saja lagi bintang maka jumlah bintang yang sebelumnya adalah batasan dari keterbatasan.
Iapun tersenyum manis.
Lanjutku...
Pikiran kita terlalu sering dibatasi.
Jika kita berdua membentangkan tali dibumi dari timur dengan arah berlawanan sampai bertemu di barat maka bentuknya akan berupa lingkaran.
Hanya kita yang tak mampu membayangkannya ketika posisi kita dibumi maka melangitlah jiwa dan pikiranmu agar tubuhmu mau bersujud dibumiNya.
Adakah tugasku hari ini katanya.
Tak ada kataku.
Iapun tertawa lepas seiring senyum manisku.
 
(Dharmadjaya, 4 Juni 2021)

===

16. Bepergian yang Teramat Jauh

Hidup tak ada yang sempurna dan kekal,
rembulanpun tahu itu.
Diketika keharusan bepergian yang teramat jauh adalah sebuah keniscayaan, bagai benang merah tipis rapuh putus dimana dan
kapanpun jua.
Ketakutan rasa takut...
meninggalkan istana megah kendaraan mewah, perniagaan dan kesenangan, tentu bukanlah tentang itu.
Takut berpisah orang orang terdekat hanya sebuah alasan yang tak beralasan karena bukan hak kita yang merasa paling mampu menjaga dan memeliharanya.
Merasa tipisnya kualitas isi rekening akhirat itu yang memungkinkan paling beralasan kita takut pergi menemuiNya.
 
(Dharmadjaya, 10 Juni 2021)

===

17. Konsekuensi

Tak pernah diri pesan meminta bahkan menyogok akan kehadirannya di dunia.
Namun terlalu sering diri lalai akan arti kehadiran itu.
Jiwa berontak tak ingin ada derita dan batas dari kehadirannya, ingin hidup berlama-lama.
Namun... tak siap menerima konsekuensi semakin rapuhnya tulang dan lemahnya akal.
Ingin memiliki kehadiran sepenuhnya dan hadir perkasa adalah sebuah ketidakmungkinan.
 
(Dharmadjaya, 10 Juni 2021)

===

18. Pasrah

Kuyakin sangat bahwasanya itu bukanlah dirimu yang sesungguhnya.

Yang hanya dengan masalah kecil tlah mampu menenggelamkanmu kedasar samudera terdalam dan gelap.

Bagaimana mungkin hanya untuk menelan sebutir pil pahit harus menghabiskan tiga tong air.

Sungguh luar biasa caramu menyikapi.

Kedewasaan bukan masalah usia, namun siapa yang lebih mampu menyikapi.

Pasrah bukan berarti lemah.

Setelah segenap usaha, dan doa dipanjatkan belum berbuah manis maka giliran pasrah untuk mengambil alih adalah sikap termanis.

 

(Dharmadjaya, 11 Juni 2021

===


19. Melepas Ikatan

Lihatlah... insting itu mencoba berlari-larian mengejar imajinasi dipesisir intuisi mencari kerangnya ilham tuk melepaskan diri dari godaan dan ikatan dunia fana.
Menghantam angkuhnya keakuan materialisme dan liberalisme dengan duduk sejenak berteman yakin dipelataran tajarrud tuk memahami rasionalitas nilai dan tujuan mana yang lebih berakal antara memilih kekal tinggal disekedar rumah dari batu bata ataukah sementara tinggal diistana dari emas permata.
Agar...
Kuat memegang panji komitmen dikawal pedang kemurnian dan totalitas.
 
(Dharmadjaya, 11 Juni 2021)

===

20. Talak Tiga

Disaat hisapan rokok kesayanganku mengepulkan pertanda cinta yang mengikat erat, entah pada stadium berapa.
Tanpa kusadari capung kecil manis sahabatku tlah ada disampingku dengan senyum kecilnya.
Perlahan ia mengajukan sapa, masihkah hisapanmu itu mendominasi rasa hegemonimu.
Seberapa besar sudah kulihat usaha dan kemauanmu untuk berpisah namun tak kunjung tiba.
Lalu... pintaku.
Bukan saja kau telah perlahan merusak tubuh yang seharusnya kau jaga dan syukuri keberadaannya.
Namun harga rupiah yang kau sia-siakan yang mungkin lebih bermanfaat untukmu atau orang lain. Meski terlihat sedikit namun seberat zarahpun ada nilainya.
Kau harus berani mengucapkan talak padanya.
Talak berapa ujarku, apakah talak tiga cukup karena kemungkinan kembali tetap ada.
Itu sekarang tugasmu sahut sahabatku.
Akupun tertawa kecil didampingi senyum indahnya.
 
(Dharmadjaya, 13 Juni 2021)

===

21. Tersesat

Jangan biarkan diri dilenakan ilmu berlimpah jika hanya membuat tersesat dilabirinnya hati.
Mensortir dengan memilih memilah adalah menjadi betapa penting.
Sepenting mengertinya kita.
Mengapa betapa... tertusuk duri dan tersayat sembilu lebih nyeri, perih pedih daripada sekedar paku dan belati.
Lebih robeknya harga diri jika dihina daripada sekedar dihardik.
Menjadi bijak memang tidak mudah namun pembiaran pada ketidakbijakan ialah ia yang terjebak diujung jalan tanpa ada jalan lagi.
 
(Dharmadjaya, 13 Juni 2021)

===

22. Kesetiaan

Dialah yang Esa.
Yang keAgunganNya tak goyah terpengaruh sedikitpun oleh baik buruknya kita.
Telah Mulia Dia dengan sendirinya.
Dialah Panglima Tertinggi Yang Maha Gagah Terhormat.
Tentaranya meliputi langit bumi...
virus, angin, meteor hingga malaikat akan dengan mudah menyudahi kesombongan kapan dan dimanapun.
Jadilah prajurit terlatihNya yang tetap setia apapun realitas tersaji dihadapan.
Jangan pernah pasrahkan kesetiaan, sebagaimana seseorang telah memasrahkan kendaraan dan rumahnya pada kunci.
 
(Dharmadjaya, 14 Juni 2021)

===

23. Malu

Dulu ia yang berburuk sangka pada Tuhannya karena cobaan dan ujian datang silih berganti, kini ia menutup aurat, malu padaNya untuk berlari dari kenyataan meski terasa pahit.
Hidup terus saja berjalan tak mau menungggu mimpi jadi kenyataan.
Kini ia selalu melangkah kuat diiringi senyum dengan sebuah inspirasi agar langkah hanya bersandar padaNya.
Bukan karena merasa kuat, tapi karena yakin Dia Yang Maha Kuat selalu bersama dengan langkahnya.
 
(Dharmadjaya, 15 Juni 2021)

===

24. Langkah

Capung kecil sahabat tercantikku tiba-tiba datang mengejutkanku dari ketermenungan.
Sedang apa katanya ramah.
Hidup ini tak mau menunggumu hanya karena berjuta alasan yang kau ajukan.
Tak peduli bagaimanapun kerasnya pukulan derita gelombang perasaanmu.
Lalu ujarku...
Ubahlah caramu mengayunkan langkah.
Karena...
Dirimu terbentuk dari apa yang kau pikirkan rasakan dan yakini.
Perlahan ia berlalu meninggalkanku dengan ciri khas senyum manisnya
 
(Dharmadjaya, 15 Juni 2021)



Tidak ada komentar: