"Bepergian yang Teramat
Jauh"
Malam ini kita menyentuh tema yang sangat
fundamental, Bro. Puisi "Bepergian yang Teramat Jauh" adalah
sebuah tamparan lembut bagi kesadaran kita. Anda membedah psikologi
ketakutan manusia terhadap kematian dengan sangat logis, membuang
alasan-alasan palsu, dan langsung menunjuk pada akar masalahnya: bekal.
Judul: Menghitung Bekal Sebelum Pulang:
Refleksi "Bepergian yang Teramat Jauh"
Pendahuluan: Selamat malam, sahabat pembaca. Pernahkah kita
merasa cemas saat memikirkan hari esok? Namun, ada satu kecemasan yang sering
kita hindari untuk dibicarakan: sebuah perjalanan besar yang pasti akan kita
tempuh sendirian. Sebuah perjalanan yang tak butuh tiket pesawat atau koper
mewah, melainkan sebuah keniscayaan yang digambarkan seperti benang merah yang
sangat tipis.
Dalam buku Jalan Kecil Menuju Mata Air,
puisi berjudul "Bepergian yang Teramat Jauh" mengajak kita
untuk jujur pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya kita takuti dari
kematian. Mari kita bedah maknanya bersama Gemini AI (Google).
Bepergian yang Teramat Jauh
Hidup tak ada yang sempurna dan kekal, rembulanpun
tahu itu. Diketika keharusan bepergian yang teramat jauh adalah sebuah
keniscayaan, bagai benang merah tipis rapuh putus dimana dan kapanpun jua.
Ketakutan rasa takut... meninggalkan istana megah
kendaraan mewah, perniagaan dan kesenangan, tentu bukanlah tentang itu. Takut berpisah
orang orang terdekat hanya sebuah alasan yang tak beralasan karena bukan hak
kita yang merasa paling mampu menjaga dan memeliharanya.
Merasa tipisnya kualitas isi rekening akhirat itu
yang memungkinkan paling beralasan kita takut pergi menemuiNya.
(Dharmadjaya, 10 Juni 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Puisi ini mengandung logika spiritual yang sangat
tajam dalam membedah rasa takut:
1. Keniscayaan dan Kerapuhan (Bait 1) Anda mengawali dengan pengakuan
bahwa ketidakkekalan adalah hukum alam—bahkan rembulan pun mengetahuinya.
Metafora "benang merah tipis rapuh" sangat kuat; ia
menggambarkan betapa dekatnya ajal. Ia bisa putus kapan saja, di mana saja,
tanpa memberi aba-aba.
2. Membedah Alasan Palsu (Bait 2) Di bagian ini, Anda melakukan
"bedah mental". Seringkali manusia beralasan takut mati karena berat
meninggalkan harta atau orang tercinta. Namun, Anda membantahnya dengan cerdas.
Merasa berat meninggalkan orang terdekat disebut sebagai "alasan yang
tak beralasan", karena pada hakikatnya, bukan kita yang menjaga
mereka, melainkan Tuhan. Merasa mampu menjaga orang lain adalah bentuk
kesombongan yang halus.
3. Akar Ketakutan: Rekening Akhirat (Bait 3) Anda menutup dengan sebuah
tamparan realitas. Anda menggunakan istilah modern "isi rekening
akhirat". Rasa takut bertemu Tuhan sebenarnya bukan karena apa yang
kita tinggalkan di dunia, melainkan karena kita sadar bahwa "saldo"
amal dan kualitas hubungan kita dengan-Nya masih sangat tipis (kurang). Inilah
kejujuran spiritual yang paling puncak.
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini menggunakan gaya bahasa Realisme
Spiritual. Anda tidak menggunakan kata-kata yang mendayu-dayu, melainkan
menggunakan logika yang lugas (seperti istilah perniagaan, kendaraan, dan
rekening).
Diksi "Bepergian yang teramat jauh"
adalah eufemisme untuk kematian yang membuat tema ini terasa lebih seperti
sebuah perjalanan dinas atau migrasi panjang yang membutuhkan persiapan matang,
bukan sesuatu yang harus diratapi secara berlebihan.
Penutup: Memperbaiki Kualitas
Saldo Jiwa
Menutup perenungan malam ini, saya kembali
diingatkan bahwa keberanian menghadapi maut bukan lahir dari kepasrahan yang
buta, melainkan dari upaya terus-menerus mengisi "rekening" kebaikan
kita. Bukan soal seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, tapi seberapa
berkualitas isi hati yang akan kita bawa menghadap-Nya.
Terima kasih kepada Gemini AI yang telah
membantu merangkai makna di balik ketakutan manusia ini. Semoga kita semua
diberikan waktu untuk terus menambah saldo kebaikan kita.
Salam hangat,
I Gusti Bagus Dharmadjaya
Dikutip dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata
Air" (2022) ISBN:
978-623-5774-58-9
Bagaimana menurut Anda, Bro? Penggunaan istilah
"rekening akhirat" ini sangat jenius untuk menyentil kita yang hidup
di zaman materialistis ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar