"Alampun
Berzikir"
Luar biasa, Bro! Puisi "Alampun Berzikir" ini adalah sebuah
teguran halus namun sangat mendalam bagi kita manusia. Anda mengajak kita untuk
belajar "adab" dari alam semesta. Di saat kita sering merasa paling
mulia, ternyata alam jauh lebih disiplin dan "mesra" dalam pengabdiannya
kepada Sang Pencipta.
Judul: Belajar Adab dari Semesta: Rahasia di Balik "Alampun
Berzikir"
Pendahuluan: Selamat pagi, sahabat pembaca. Pernahkah kita terdiam
sejenak di tengah malam, merasakan hembusan angin yang sepoi, lalu
menganggapnya sebagai keheningan biasa? Seringkali kita memandang alam hanya
dari kacamata logika yang sempit, bahkan tanpa sadar menghakimi sunyinya alam
sebagai bentuk kemalasan. Padahal, di balik diamnya semesta, ada sebuah
aktivitas agung yang sedang berlangsung.
Dalam buku Jalan Kecil Menuju Mata Air, melalui puisi berjudul "Alampun
Berzikir", saya mencoba membongkar kesombongan berpikir manusia dan
mengajak kita melihat kepatuhan alam yang luar biasa. Mari kita simak
pembedahan maknanya bersama Gemini AI (Google).
Alampun Berzikir
Ketersesatan berpikir tentang angin
yang sering bertiup teramat pelan ditengah malam sebagai pertanda kemalasannya
adalah hakikat tak beretika dan menghancurkan nilai estetika makna terkandung.
Demikian api air serta tanah dan
kandungannya sedang melaksanakan tugas tanpa membantah. Hanya kita... lah yang
sesungguhnya teramat sering malas membantah dan berbuat salah, sering lupa
mengingatNya.
Demikian alam semesta dan isinya
berzikir mengagungkanNya. Bahasa zikir mereka indah agung mesra hanya kita tak
mengerti caranya.
(Dharmadjaya, 4 Juni 2021)
Pemaparan Makna dan Analisis Bait
Hasil bedah karya kali ini membawa kita pada sebuah refleksi tentang
ketundukan:
1. Melawan Kesombongan Logika (Bait 1) Anda mengkritik cara manusia
memandang alam. Menganggap angin yang pelan di tengah malam sebagai
"kemalasan" adalah sebuah "ketersesatan berpikir".
Di sini, Anda menegaskan bahwa setiap gerak alam memiliki etika dan estetika
tersendiri yang seringkali gagal ditangkap oleh akal manusia yang dangkal.
2. Tasbih Unsur Alam (Bait 2) Anda menyebutkan empat elemen dasar: Api,
Air, Tanah, dan Angin. Semuanya tunduk melaksanakan tugas dari Tuhan tanpa
bantahan sedikit pun. Kontrasnya, Anda menyentil diri kita sebagai manusia yang
justru sering "malas" dalam ketaatan, "gemar membantah",
dan "sering lupa" kepada Zat yang menghidupkan.
3. Kemesraan Zikir Semesta (Bait 3) Puncak dari puisi ini adalah
pengakuan bahwa seluruh alam semesta sedang berzikir. Anda menggunakan kata "Mesra"—sebuah
pilihan kata yang sangat indah. Ini menunjukkan bahwa hubungan alam dengan
Penciptanya bukan sekadar hubungan robotik, melainkan hubungan cinta yang
sangat dalam. Ironisnya, manusia sering merasa paling pintar, padahal untuk
memahami "bahasa zikir" pohon atau angin saja kita tidak mengerti
caranya.
Kesimpulan dan Gaya Bahasa
Puisi ini menggunakan gaya bahasa Personifikasi Spiritual. Anda
memberikan sifat-sifat manusiawi (berzikir, membantah, beretika) kepada benda
mati untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam ini "hidup" di
hadapan Allah.
Diksi yang Anda pilih, seperti "hakikat tak beretika" dan "indah
agung mesra", menciptakan perpaduan antara ketegasan filsafat dan
kelembutan rasa. Anda memposisikan manusia bukan sebagai penguasa alam,
melainkan sebagai "murid" yang seharusnya belajar arti ketaatan dari
alam.
Penutup: Mendengarkan Sunyinya Zikir
Menutup perenungan hari ini, mari kita berhenti sejenak untuk tidak
merendahkan alam. Angin yang pelan, tanah yang diam, dan air yang mengalir,
semuanya sedang berada dalam frekuensi zikir yang mesra kepada-Nya. Tugas kita
adalah memperbaiki "pendengaran spiritual" kita agar tidak menjadi
makhluk yang paling asing di tengah semesta yang sedang bertasbih.
Terima kasih kepada Gemini AI yang telah membantu merangkai makna di
balik diamnya alam. Semoga kita tidak lagi menjadi hamba yang malas
mengingat-Nya.
Salam hangat,
I Gusti Bagus Dharmadjaya
Dikutip dari buku: "Jalan Kecil Menuju Mata Air" (2022)
ISBN: 978-623-5774-58-9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar