Rahasia sukses Timnas U-19



ditulis oleh: Sirajudin Hasbi
Jika ditanya mengenai kunci keberhasilan Indonesia mengalahkan Korea Selatan 3-2 dan berhasil lolos ke putaran final Piala Asia U-19  di Myanmar pada Oktober 2014 jawabannya jelas berkat buah perencanaan matang Indra Sjafri sekaligus kedisiplinan pemain untuk menjalankan instruksi sang pelatih. Perpaduan ini memberikan kemenangan sekaligus permainan indah Garuda Muda. 
Jika sebelumnya kita lebih mengandalkan keberuntungan saat menghadapi tim kuat apalagi raksasa Asia seperti Korea Selatan, maka pertandingan penentuan Sabtu (12/10) malam WIB lalu kita menunjukkan bahwa kita memang layak jadi penguasa. Menguasai jalannya pertandingan dan bisa memainkan permainan menyerang yang merepotkan sang lawan.

Formasi 4-3-3 Berjalan Baik
Sejak pertandingan pertama menghadapi Laos, Indra Sjafri konsisten dengan pola menyerang 4-3-3. Skema ini pula yang membawa Garuda Muda menjuarai Piala AFF U-19 September 2013 lalu.
Permainan menyerang ini diimbangi dengan kualitas pemain yang mumpuni di setiap lini. Ravi Murdianto yang di dua laga awal menghadapi Laos dan Filipin tak banyak mendapat tekanan menunjukkan kualitasnya saat melawan Korsel. Walaupun kebobolan dua gol, kepiawaian Ravi dalam mengantisipasi bola cukup bagus. Hal yang perlu dia tingkatkan adalah bagaimana dia harus bisa mengatur pertahanan di depannya lebih baik lagi.
Empat pemain belakang juga bermain bagus. Putu Gede di kanan dan Faturochman di kiri sesekali membantu serangan, tetapi fokus bertahan menjadi yang lebih utama. Untuk urusan menyerang, menjadi tanggung jawab tiga pemain tengah dan tiga pemain depan.
Formasi 4-3-3 Indra Sjafri ini bisa menjadi 4-2-1-3 ketika menyerang. Posisi Evan Dimas sebagai jenderal lapangan tengah sangat fleksibel. Dialah yang mengatur permainan sekaligus punya insting gol yang bagus ketika harus menyelesaikan peluang. Tiga gol di pertandingan melawan Korsel menjadi bukti bagaimana dia bisa menciptakan ruang untuk dirinya dan dengan kemampuan kelas dunia menyelesaikan peluang dengan cantik.

Korea Selatan Sempat Menguasai Permainan
Di awal pertandingan, ketika kita belum tenang menguasi permainan, Korsel mengambil inisiatif penguasaan bola dengan baik. Kim Sang Ho, pelatih Korsel, nampak sudah hapal betul gaya permainan Indonesia. Dia mengunci Evan Dimas dan kedua sayap dengan pressing ketat.
Tahu Evan Dimas menjadi pusat permainan, dia mengisolasi pemain asal Surabaya ini dengan dua tiga pemain untuk menempelnya. Alhasil aliran bola tidak nyaman. Bola lebih sering dikirim ke sisi lapangan. Padahal di kedua sisi itu Korsel sudah siap menekan Ilham Udin dan Maldini Pali. 
Saat bola sudah di sayap setidaknya dua pemain Korsel siap menyergap. Wajar jika Ilham Udin yang punya gocekan bola aduhai harus lebih sering kehilangan bola. Hal seperti ini setidaknya terjadi di lima belas menit pertama. 
Ketika sudah mampu menahan serangan Indonesia yang tampak ingin cepat unggul, Korsel berbalik menyerang. Di sinilah peran Hargianto dan Zulfiandi menjadi sentral untuk menyaring serangan. Empat bek juga memperoleh tekanan yang tak biasa mereka dapatkan di dua pertandingan sebelumnya.
Lalu hujan turun dengan derasnya dan merusak kondisi lapangan Stadion GBK. Aliran bola Korsel ikut terhambat ketika air mulai menggenangi lapangan.
Di saat inilah, Indonesia mulai kembali bisa mengimbangi Korsel dan enggan untuk didekte permainannya. Evan Dimas menunjukkan bahwa dia punya visi yang di atas rata-rata pemain Indonesia lainnya. Dia menciptakan ruang untuk dirinya sendiri ketika dia diisolasi oleh pemain Korsel. Dia berdiri sedikit lebih ke depan untuk menghindari dua gelandang bertahan Korsel.
Choi Jaehun dan Hwang Hee Chan yang bertugas sebagai gelandang bertahanan nampak sering terlambat turun. Mungkin ini karena sudah mengira mereka berhasil mematikan serangan Indonesia sesuai instruksi pelatih. Celah antara lini tengah dan belakang inilah yang diisi oleh Evan Dimas. Dia mengambil resiko juga sebenarnya, namun beruntung Hargianto dan Zulfiandi bermain dengan determinasi tinggi sehingga mampu berduel dengan empat gelandang Korsel.
Gol pertama Indonesia menjadi bukti kalau ruang yang diciptakan oleh Evan Dimas berhasil. Ilham Udin yang kali ini bisa mengelabui penjagaan pemain Korsel berhasil mengirimkan umpan ke Evan Dimas di menit 30 yang dengan dingin menyelesaikan peluang menjadi gol ke gawang Lee Taehui.
Dua gol tambahan dari Evan Dimas prosesnya mirip. Menerima umpan diagonal dari sayap. Bedanya gol kedua dan ketiga yang tercipta di menit 48 dan 85 ini berasal dari sisi kanan, tempatnya Maldini Pali. Sisi kiri Korsel, sang raksasa Asia itu bak pertahanan tim medioker. Bertahan dengan susah payah tetapi bisa dieksploitasi oleh pemain-pemain Indonesia.

Pertahanan Perlu Diperbaiki dan Waspada Pelanggaran Tidak Perlu
Mengalahkan Korsel yang punya kemampuan bagus dan berpengalaman sebagai pemegang 12 kali juara jelas prestasi yang patut disyukuri. Semua pihak layak merayakan kemenangan ini.
Namun, tetap saja ada hal yang perlu dibenahi oleh Indra Sjafri. Ada dua hal, terkait dengan pertahanan dan lebih waspada pada pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu yang bisa berujung kartu kuning. Rasanya Indra Sjafri tahu betul tentang hal ini.
Mencetak sembilan gol dan hanya dua kali kebobolan dalam tiga pertandingan adalah torehan yang mengesankan. Tetapi, pertahanan Indonesia masih perlu banyak belajar terutama untuk mengantisipasi bola lambung dari umpan silang maupun tendangan bebas. Jujur saja, setiap Korsel melepaskan umpan tarik dan tendangan bebas, ketar-ketir melihat bagaimana Indonesia merancang pertahanannya. Ini ke depannya perlu dibenahi. Pertahanan kita punya potensi dan kualitas mungkin hanya kurang teruji saja.
Semoga Indra Sjafri bisa menemukan formula yang baik dalam bertahan seperti dia menemukan cara mengagumkan dalam menyusun strategi menyerang.
Untuk kartu kuning, ini sudah terjadi sejak pertandingan pertama menghadapi Laos. Di pertandingan melawan Laos, Evan Dimas, Zulfiandi dan Angga Febryanto Putra memperoleh kartu kuning. Pelanggaran yang dilakukan bisa dihindari jika pemain bisa lebih tenang.
Saat menghadapi Korsel, Muchlis sudah memperoleh kartu kuning di menit 35. Pelanggaran yang dilakukan Muchlis memang disayangkan tetapi ini mungkin juga karena dia memperoleh tambahan tugas dari sang pelatih untuk menjadi orang pertama dalam menyusun pertahanan saat Korsel memperoleh bola. Perannya sebagai defensive forward mengharuskannya segera menutup bola sesegera mungkin. Pelanggaran berbahaya yang bisa berujung kartu kuning ini juga dilakukan oleh Hansamu, Putu Gede, Zulfiandi dan lainnya. Jadi, ini menjadi PR tersendiri oleh Indra Sjafri.
Dilihat dari permainan timnas sejak Piala AFF U-19 lalu, grafik permainannya terus meningkat. Kesalahan-kesalahan elementer maupun penguasaan ruangnya sudah jauh lebih baik. Jika pertahanan semakin baik, mimpi Indra Sjafri untuk membawa Indonesia ke Piala Dunia U-20 tahun 2015 mendatang bisa diwujudkan. Selamat dan tetap semangat Garuda Muda!
( sumber )                                                  LANJUTKAN

Tidak ada komentar: